<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941</id><updated>2011-12-17T01:38:23.997-08:00</updated><title type='text'>matrix privat</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-2760005945086108979</id><published>2009-09-01T21:47:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T22:10:40.019-07:00</updated><title type='text'>sholat dhuha</title><content type='html'>TATA CARA SHALAT SUNAT DHUHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berniat untuk melaksanakan shalat sunat Dhuha setiap 2 rakaat 1 salam. Seperti biasa bahwa niat itu tidak harus dilafazkan, karena niat sudah dianggap cukup meski hanya di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Membaca surah Al-Fatihah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Membaca surah Asy-Syamsu (QS:91) pada rakaat pertama, atau cukup dengan membaca Qulya (QS:109) jika tidak hafal surah Asy-Syamsu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Membaca surah Adh-Dhuha (QS:93) pada rakaat kedua, atau cukup dengan membaca Qulhu (QS:112) jika tidak hafal surah Adh-Dhuha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Rukuk, iktidal, sujud, duduk dua sujud, tasyahud dan salam adalah sama sebagaimana tata cara pelaksanaan shalat fardhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Menutup shalat Dhuha dengan berdoa. Inipun bukan sesuatu yang wajib, hanya saja berdoa adalah kebiasaan yang sangat baik dan dianjurkan sebagai tanda penghambaan kita kepada ALLAH.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-2760005945086108979?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/2760005945086108979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/09/sholat-dhuha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/2760005945086108979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/2760005945086108979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/09/sholat-dhuha.html' title='sholat dhuha'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-5777677793720928515</id><published>2009-09-01T21:42:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T22:07:18.496-07:00</updated><title type='text'>Beda Penanggalan Jawa dan Sunda</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengenal Kalender Hijriah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelender Saka dan Jawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek moyang kita memakai kalender saka sewaktu masih memeluk agama Hindu. Kalender saka dimulai tahun 78 masehi, ketika kota Ujjayini (malwa di India sekarang) direbut kaum saka (scythia) dibawah pimpinan Raja Kaniska dari tangan kaum Satavahana. Tahun baru terjadi pada saat Minasamkranti (matahari pada rasi pisces) awal musim semi. Nama Jyestha, Asadha, Srawana, Bhadrawada, Aswina, (Asuji), Kartika, Margasira, Posya, Magha, Palguna. Agar kembali sesuai dengan  matahari, bulan Asadha dan Srawana diulang secara bergilir setiap tiga tahun dengan nama Dwitiya Ashada dan Dwitiya Srawana. Satu bulan dibagi dua bagian: Suklapaksa (paro terang, dari konjungsi sampai puranama) dan Kresnapaksa (paro gelap dari selepas purnama sampai menjelang konjungsi), masing-masing bagian 15 atau 14 hari (tithi). Jadi kelender saka tidak memeiliki tanggal 16. Misalnya Tithi Pancami Suklapaksa adalah tanggal lima sedangkan tithi pamcami kresnapaksa adalah tanggal duapuluh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalender Saka dipakai di Jawa sampai awal abad 17. Kesultanan Demak, Banten, dan Mataram menggunakan kalender saka dan hijriah secara bersama-sama. Pada tahun 1633 Masehi (1555 saka atau 1043 Hijriah), Sultan Agung Ngabdurahman Sayidin Panotogomo Molana Matarami (1613-1645) dari Mataram menghapuskan kalender lunisolar saka dari pulau jawa, lalu menciptakan kalender jawa yang mengikuti kalender lunar Hijriah. Cuma bulangan tahun 1555 tetap di lanjutkan, jadi 1 muharram 1043 hijriah adalah 1 muharram 1555 jawa, yang jatuh pada hari jumat legi tanggal 8 juli 1633 Masehi. Angka tahun jawa selalu berselisih 512 dari angka tahun hijriah. Keputusan Sultan Agung ini disetujui dan diikuti oleh  Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1651) dari Banten. Dengan demikian kalender saka tamat riwayatnya di seluruh Jawa, dan digantikan oleh kalender Jawa yang bercorak Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama bulan disesuaikan dengan lidah jawa : Muharam, Sapar, Robingulawal, Robingulakir, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Sa’ban, Ramelan, Sawal, Dulkangidah, Dulkijah. Muharram juga disebut bulan Suro Sebab mengandung hari Asyura 10 Muharram, Robi’ul Awwal dijuluki bulan Mulud, yaitu kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Raobi’ul Akhir adalah Bakdamulud atau Silihmulud, artinya sesudah Mulud. Sya’ban merupakan bulan Ruwah saat mendoakan arwah keluarga yang telah wafat, dalam rangka menyambut bulan poso (puasa Ramadhan), Dzul Qo’dah di sebut Hapit atau Sela sebab terletak diantara dua hari raya, Dzulhijah bulan Haji atau Besar (Rayagung) saat berlangsungnya ibadah haji dan Idul Adha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama hari dalam bahasa sangsekerta  (Raditya, Soma, Anggara, Budha, Brehaspati, Sukra, Sanaiscara) yang berbau jahiliyah (penyembah benda-benda langit) juga dihapuskan oleh Sultan Agung lalu diganti dengan lidah jawa : Ahad, Senen, Seloso, Rebo, Kemis, Jumuwah, Saptu. Tetapi hari-hari puncawara (Pahing, Pon, Wage, Kaliwuan, Umanis, atau Legi) tetap dilestarikan sebab hal ini merupakan konsep asli masyarakat jawa, bukan diambil dari kalender Saka atau budaya India. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap siklus satu windu (delapan tahun) tanggal 1 Muharram (Sura) berturut-turut jatuh pada hari ke 1, ke5, ke 3, ke 7, ke 4, ke 2, ke 6 dan ke 3. Itulah sebabnya tahun-tahun jawa dalam sewindu dinamai berdasarkan numerologi huruf Arab: Alif(1), Ha(5), Jim Awal(3), Zai(7), Dal(4), Ba(2), Waw(6), dan Jim Akhir(3). Sudah tentu pengucapanya menurut lidah Jawa: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir di tetapkan sebagai kabisat. Jumlah hari dalam sewindu adalah (354×8) + 3 = 835 hari, Angka yang habis dibagi 35 (7×5). Itulah sebabnya tanggal 1 Muharram tahun Alip dalam setiap 120 tahun selalu jatuh pada hari dan pasaran yang sama. &lt;br /&gt;Oleh karena kabisat Jawa tiga dari delapan tahun (3/8 = 45/120), sedangkan kabisat hijriah 11 dari 30 tahun (11/30 = 44/120) maka dalam setiap 15 windu (120 tahun), yang disebut satu kurup, kalender jawa harus hilang satu hari, agar kembali sesuai dengan kalender Hijriah. Sebagai contoh, kurup pertama berlangsung dari jumat legi 1 Muharram tahun Alip 1555 sampai Kamis Kliwon 30 Dulkijah tahun Jimakir 1674. Disini 30 Dulkijah dihilangkan, dengan demikian Rabu Wage 29 Dulkijah 1674 akhir kurup pertama langsung diikuti oleh awal kurup kedua Kamis Kliwon 1 Muharram tahun Alip 1675.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kurup ( 120 tahun ) dinamai menurut hari pertamanya, Periode 1555-1674 di sebut Jamngiah (awahgi = tahun Alip mulai Jumuwah Legi) kemudian periode 1675-1794 kurup Kamsiah (Amiswon = Alip-Kamis-Kliwon),dan periode 1795-1914 kurup Arbangiah (Aboge = Alip-Rebo-Wage). Sejak 1 Muharram tahun Alip 1915 (1 Muharram 1403 Hijriah) yang jatuh pada 19 Oktober 1982, kita berada dalam kurup Salasiah 1915-2034 (Asopon = Alip-Seloso-Pon), dimana setiap 1 Muharram tahun Alip pasti jatuh pada hari Selasa Pon. Tahun baru 1 Muharram (Sura) tahun Alip 1939 yang identik dengan 1 Muharram 1427 Hijriah,jatuh pada hari Selasa Pon tanggal 31 Januari 2006. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalender Sunda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini mulai populer apa yang di sebut Kala Sunda, yang  dikatakan sebagai kalender lunar asli sunda yang terlupakan selama ratusan tahun. Kala Sunda ternyata memiliki kejanggalan dalam penentuan awal bulan, berbeda dengan  kelender solar yang tidak tergantung pada posisi bulan, semua kalender lunar dan lunisolar harus memperhitungkan munculnya bulan baru dalam penentuan tanggal satu, Itulah sebabnya tanggal satu (awal bulan) dari kalender-kalender hijriah, Jawa, Yahudi, Saka, Budha dan Imlek selalu berdekatan. Anehnya Kala Sunda menetapkan tanggal satu ketika bulan berwujud setengah lingkaran (padahal seharusnya tgl 7 atau 8). Istilah Sangsekerta Sulapaksa (paro tengah) yang arti sesungguhnya separo bulan (half month) sebelum purnama dipersepsi secara lain oleh sang pembuat kalender Kala Sunda yaitu : Awal bulan terjadi ketika bulan terlihat separo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata apa yang dinamakan Kala Sunda itu merupakan kalender modern yang diramu dari berbagai sistem kalender lain, lalu dimodifikasi agar kelihatan berbeda dengan kalender-kalender sebelumnya. Sistem Kala Sunda persis sama seperti pinang dibelah dua dengan sistem kalender jawa: dalam sewindu ada tiga tahun kabisat dan setiap 120 tahun dihilangkan sehari, sehingga jika misalnya awal windu (indung poe) Senen Manis, maka awal windu selanjutnya Senen Manis juga. Setiap 120 tahun indung poe berganti dari Senen Manis menjadi Ahad Kliwon, kemudian menjadi Sabtu Wage, dan seterusnya. Jadi sama sekali tidak ada kelabihan Kala Sunda dari kalender karya Sultan Agung yang selama ini dipakai oleh masyarakat Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama bulan dalam Kala Sunda (Kartika, Margasira, Posya, Maga, Palguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, Asuji), Nama-nama hari (Radite, Soma, Anggara, Buda, Respati, Sukra, Tumpek) serta pembagian bulan menjadi suklapaksa dan kresnapaksa sehingga tidak ada tanggal 16, semuanya itu meniru kalender Saka, kecuali nama hari tumpek (Sabtu) yang entah dari mana diambil. Nama-nama ini bukan asli budaya Sunda melainkan pinjaman dari India. Dikalangan rumpun Indijermania (termasuk India) hari pertama berhubungan dengan dewa matahari (Raditya, Dies Solis, Sunday, Zondag, Sonntag, Dimanche), dan hari kedua dengan dewa bulan (Soma, Dies Lunae, Monday, Maandag, Montag, Lundi).Nama-nama hari kalender Saka yang sama dihapuskan Sultan Agung lantaran berbau kemusyrikan kini dihidupkan kembali oleh Kala Sunda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada lagi beberapa hal yang patut dijelaskan oleh sang pembuat kelender Kala Sunda. Mengapa bulan pertama dalam Kala Sunda adalah Kartika, yang dalam kalender saka bulan kedelapan? Apakah manfaatnya menghitung tanggak 1 dari saat bulan setengah lingkaran, yang tidak pernah ada sepanjang sejarah kalender zaman Mesopotamiadan Mesir Purba? Apakah gunanya menghidupkan kembali pembagian bulan menjadi Suklapaksa dan Kresnapaksa, padahal dalam kalender Saka modern di India tidak di pakai lagi? Jika sekarang tahun 1942 Sunda, berarti tahun 1 kalender Kala Sunda jatuh pada tahun 123 Masehi, sehingga kita tetapkan sebagai tahun satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala Sunda memang cukup akurat cuma kita harus jujur mengatakan bahwa ini adalah kalender baru ciptaan seorang budayawan Sunda, Ali Sastraamijaja ( Abah Ali ), yang sangat patut kita hargai! Tetapi janganlah kita gegabah mengatakan sebagai warisan leluhur Ki Sunda, sebab belum pernah ada kelnder seperti itu. Prasasti-prasasti sebelum Islam selalu menggunakan kalender Kala India, meskipun banyak yang dilengkapi pancawara (bahkan ada juga yang memakai sadwara) hari-hari asli Jawa dan Sunda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-5777677793720928515?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/5777677793720928515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/09/beda-penanggalan-jawa-dan-sunda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/5777677793720928515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/5777677793720928515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/09/beda-penanggalan-jawa-dan-sunda.html' title='Beda Penanggalan Jawa dan Sunda'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-2859051535557978039</id><published>2009-09-01T21:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T21:41:02.286-07:00</updated><title type='text'>Belajar Shodaqah</title><content type='html'>Sedekah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pemberian yang diberikan oleh seorang Muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu; suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap rida Allah SWT dan pahala semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedekah dalam pengertian di atas oleh para fukaha (ahli fikih) disebut sadaqah at-tatawwu’ (sedekah secara spontan dan sukarela). Sebenarnya ada pula arti sedekah yang lain. Menurut mereka, istilah sedekah juga dapat searti dengan kata zakat, yang berarti suatu harta wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim pada waktu tertentu dan dalam jumlah tertentu yang telah ditetapkan oleh syariat (hukum Islam). Karena itu para fukaha sering menyebut istilah zakat fitrah dengan sadaqah al-fitr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sedekah dalam pengertian bukan zakat sangat dianjurkan dalam Islam dan sangat baik dilakukan tiap saat. Di dalam Alquran banyak sekali ayat yang menganjurkan kaum muslimin untuk senantiasa memberikan sedekah. Di antara ayat yang dimaksud adalah yang artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberikan kepadanya pahala yang besar.” (QS An-Nisaa [4]:14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula di dalam sunah. Hadis yang menganjurkan sedekah tidak sedikit jumlahnya. Di dalam salah satu hadis, Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang memberi makan dan menjawab salam” (HR Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali). Para fukaha sepakat bahwa hukum sedekah pada dasarnya adalah sunah, berpahala bila dilakukan dan tidak berdosa bila ditinggalkan. Di samping sunah, ada kalanya pula hukum sedekah itu menjadi haram, yaitu dalam kasus seseorang yang bersedekah mengetahui pasti bahwa orang yang menerima sedekah akan menggunakan harta sedekah itu untuk kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, ada kalanya pula hukum sedekah itu berubah menjadi wajib, yaitu ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang sedang kelaparan hingga dapat mengancam keselamatan jiwanya, sementara dia (orang pertama) mempunyai makanan lebih dari apa yang ia perlukan saat itu. Hukum sedekah juga menjadi wajib jika seseorang bernazar hendak bersedekah kepada seseorang atau lembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedekah dalam arti sadaqah at-tatawwu’ berbeda dengan zakat. Sedekah lebih utama jika diberikan secara diam-diam dibandingkan diberikan secara terang-terangan, dalam arti diberitahukan atau diberitakan kepada umum. Hal ini sejalan dengan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW dari sahabat Abu Hurairah. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa salah satu kelompok hamba Allah SWT yang mendapat naungan dari-Nya di hari kiamat kelak adalah seseorang yang memberi sedekah dengan tangan kanannya lalu ia sembunyikan seakan-akan tangan kirinya tidak tahu apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-2859051535557978039?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/2859051535557978039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/09/belajar-shodaqah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/2859051535557978039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/2859051535557978039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/09/belajar-shodaqah.html' title='Belajar Shodaqah'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-5617216313010318914</id><published>2009-05-22T23:13:00.000-07:00</published><updated>2009-05-22T23:22:48.671-07:00</updated><title type='text'>Menyiapkan Pensiun dengan Menabung</title><content type='html'>Manajemen gaji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus kita prioritaskan adalah tabungan, sehingga kita menghitungnya:&lt;br /&gt;Kebutuhan = Pendapatan - Tabungan&lt;br /&gt;Jadi dari pendapatan yang kita terima dikurangi 12% lalu sisanya untuk memenuhi kebutuhan kita. Lakukan ini setiap bulan maka anda akan merasakan hasilnya dimasa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang menabung dengan cara : pendapatan yang diterima dibelanjakan dulu buat memenuhi kebutuhan baru sisanya ditabung atau kalau kita hitung jadi : Tabungan = Pendapatan - Kebutuhan. Padahal kebutuhan kita tidak akan ada batasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggaran/pedoman pengeluaran bulanan sbb:&lt;br /&gt;1. Tabungan                         : 12%,&lt;br /&gt;2. Angsuran Kredit             : 30%,&lt;br /&gt;3. Pendidikan                      : 8%,&lt;br /&gt;4. Makanan                                                              :30%,&lt;br /&gt;5. Akomodasi dan Transportasi    : 10%,&lt;br /&gt;6. Kesehatan                                : 5%&lt;br /&gt;7. Sandang                            :5%,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekening di dua Bank berbeda, 1 unit dana pensiun (tidak diambil2), yang satunya lagi untuk kebutuhan tak terduga. Menjadilah anggota Credit Union (bila ada kebutuhan mendesak baru bisa pinjam dana, tentu saja dengan cicilan yang mampu dibayar perbulan sesuai dengan income yang ada).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat buku Kas Harian, Buku Rincian pengeluaran dan  pemasukan, dan tabel plan-result-selisih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua gaji langsung masuk pada amplop masing-masing kebutuhan. Bila kita mau disiplin dengan anggaran, pasti kita tidak mendapatkan kesulitan. Yang penting mengeluarkan uang karena kebutuhan bukan keinginan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-5617216313010318914?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/5617216313010318914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/05/menyiapkan-pensiun-dengan-menabung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/5617216313010318914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/5617216313010318914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/05/menyiapkan-pensiun-dengan-menabung.html' title='Menyiapkan Pensiun dengan Menabung'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-7159753823058780380</id><published>2009-05-22T23:08:00.000-07:00</published><updated>2009-05-22T23:10:37.200-07:00</updated><title type='text'>Membangun Rumah Sendiri</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Rumah&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Rumah merupakan kebutuhan primer. Sejak jaman purba manusia tidak pernah lepas dari yang namanya tempat tinggal atau yang disebut sekarang sebagai rumah. Dengan rumah manusia dapat berlindung dari hujan, panas, dingin, hewan liar dan juga sebagai tempat untuk berasosiasi bersama seluruh anggota keluarga. Rumah sangat dipenting untuk kita beristirahat.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Dalam membangun rumah perlu dipelajari dan dipahami tentang ilmu bangunan. Seperti  pemilihan lokasi membangun, desain yang mau kita buat, material atau bahan yang kita perlukan dan juga adminiustrasi yang perlu disiapkan (IMB). Pada jaman sekarang ini material yang kita perlukan tidak lagi bisa didapatkan secara gratis, dengan mengambil sendiri di alam, namun hampir semua bahan kita dapatkan dengan membeli. Sehingga kita harus selektif dan mengkalkulasi secara cermat untuk memilih bahan yang sesuai dengan kebutuhan, jangan sampai kita beli kualitasnya kurang bagus, atau bahan yang kita beli sisa banyak atau malah kurang. Untuk mengurus IMB kita bisa menghubungi instansi yang berkepentingan. Dokumen yang diperlukan biasanya formulir yang harus kia isi, fotocopy KTP atau pengurus, surat kuasa (bila yang mengurus pihak ketiga atau kontraktor), fotocopy bukti kepemilikan tanah yang sah (akta jual-beli atau sertifikat tanah), keterangan girik, bukti pembayaran PBB, gambar rancangan  arsitektur, fotocopy SIBP (Surat Izin Bekerja Perencana) arsitektur.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Tiap orang pasti menginginkan rumah yang bagus dan terletak dengan kota atau bahkan di tengah kota. Kebanyakan orang mencari rumah yang dekat dengan berbagai fasilitas dan mudah untuk mendapatkan kebutuhan yang kita perlukan. Namun harga tanah kian lama semakin tinggi apalagi di dalam kota. Untuk membangun rumah yang bagus diperlukan bahan yang kulitasnya bagus, jasa arsitektur, dan tukang yang ahli. Tapi apabila kita tidak tahu akan hal tersebut yang sesuai dengan kebutuhan kita maka akan membutuhkan dana yang terlalu besar. Banyak orang yang menganggap bahwa harga material sangat mahal, jasa tukang sulit, minta jasa arsitek mahal, harga tanah yang melambung dan birokrasi untuk membangun rumah rumit. Sehingga masyarakat sekarang enggan membangun rumah sendiri. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan tentang ilmu bangunan.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Kondisi seperti itu dimanfaatkan oleh para investor dan pengembanga untuk membangun perumahan sebanyak-banyaknya dengan penawaran yang menarik, dengan harga murah dan bisa dikredit lewat bank (KPR). Pemerintah juga mendukung pembangunan perumahan dengan mempermudah perijinan dan bahkan mensubsidi rumah untuk kelas bawah. Ini merupakan bisnis yang menarik dan sangat menguntungkan dalam bisnis &lt;i&gt;property&lt;/i&gt;. Namun  dalam kenyataannya kualitas rumah murah yang dijanjikan sangat jauh dari kenyataan. Kualitas rumah tersebut kurang bagus, lokasinya jauh dari pusat kota, dan harganya juga masih mahal, selisih sedikit dengan rumah yang ada di dekat kota.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Oleh karena itu, masyarakat harus mempelajari tentang ilmu bangunan. Bagaimana membangun rumah yang sesuai dengan standar kesehatan, aman dan sesuai dengan anggaran yang dipunyai. Saat ini sudah berkembang produk-produk hasil teknologi yang dapat menjadi alternative untuk menciptakan rumah yang efisien dalam hal pendanaan sehingga dihasilkan rumah yang memuaskan. Dengan kemajuan informasi masyarakat juga dapat belajar lebih banyak tentang ilmu bangunan dan arsitektur, sehingga dapat mengembangkan rumahnya semakin bagus dan bernilai tinggi.[]&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-7159753823058780380?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/7159753823058780380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/05/membangun-rumah-sendiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/7159753823058780380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/7159753823058780380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/05/membangun-rumah-sendiri.html' title='Membangun Rumah Sendiri'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-5493489126823250118</id><published>2009-04-09T00:51:00.000-07:00</published><updated>2009-04-09T00:53:45.018-07:00</updated><title type='text'>Belajar Kriptografi</title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kriptografi, secara umum adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu" title="Ilmu"&gt;ilmu&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Seni" title="Seni"&gt;seni&lt;/a&gt; untuk menjaga kerahasiaan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berita" title="Berita"&gt;berita&lt;/a&gt; [bruce Schneier - &lt;i&gt;Applied Cryptography&lt;/i&gt;]. Selain pengertian tersebut terdapat pula pengertian ilmu yang mempelajari teknik-teknik &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Matematika" title="Matematika"&gt;matematika&lt;/a&gt; yang berhubungan dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aspek_keamanan_informasi" title="Aspek keamanan informasi" class="mw-redirect"&gt;aspek keamanan informasi&lt;/a&gt; seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kerahasiaan_data&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Kerahasiaan data (halaman belum tersedia)"&gt;kerahasiaan data&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keabsahan_data&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Keabsahan data (halaman belum tersedia)"&gt;keabsahan data&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Integritas_data&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Integritas data (halaman belum tersedia)"&gt;integritas data&lt;/a&gt;, serta &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Autentikasi_data&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Autentikasi data (halaman belum tersedia)"&gt;autentikasi data&lt;/a&gt; [A. Menezes, P. van Oorschot and S. Vanstone - Handbook of Applied Cryptography]. Tidak semua aspek keamanan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Informasi" title="Informasi"&gt;informasi&lt;/a&gt; ditangani oleh kriptografi.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ada empat tujuan mendasar dari ilmu kriptografi ini yang juga merupakan aspek keamanan informasi yaitu :&lt;/p&gt; &lt;ul style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerahasiaan" title="Kerahasiaan"&gt;Kerahasiaan&lt;/a&gt;, adalah layanan yang digunakan untuk menjaga isi dari informasi dari siapapun kecuali yang memiliki otoritas atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kunci_%28kriptografi%29" title="Kunci (kriptografi)"&gt;kunci rahasia&lt;/a&gt; untuk membuka/mengupas informasi yang telah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Enkripsi" title="Enkripsi"&gt;disandi&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Integritas&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Integritas (halaman belum tersedia)"&gt;Integritas&lt;/a&gt; data, adalah berhubungan dengan penjagaan dari perubahan data secara tidak sah. Untuk menjaga integritas data, sistem harus memiliki kemampuan untuk mendeteksi manipulasi data oleh pihak-pihak yang tidak berhak, antara lain penyisipan, penghapusan, dan pensubsitusian data lain kedalam data yang sebenarnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Autentikasi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Autentikasi (halaman belum tersedia)"&gt;Autentikasi&lt;/a&gt;, adalah berhubungan dengan identifikasi/pengenalan, baik secara kesatuan sistem maupun informasi itu sendiri. Dua pihak yang saling berkomunikasi harus saling memperkenalkan diri. Informasi yang dikirimkan melalui kanal harus diautentikasi keaslian, isi datanya, waktu pengiriman, dan lain-lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Non-repudiasi.&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Non-repudiasi. (halaman belum tersedia)"&gt;Non-repudiasi.&lt;/a&gt;, atau nirpenyangkalan adalah usaha untuk mencegah terjadinya penyangkalan terhadap pengiriman/terciptanya suatu informasi oleh yang mengirimkan/membuat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-5493489126823250118?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/5493489126823250118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/04/belajar-kriptografi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/5493489126823250118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/5493489126823250118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/04/belajar-kriptografi.html' title='Belajar Kriptografi'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-4482299202554837019</id><published>2009-04-09T00:09:00.001-07:00</published><updated>2009-04-09T00:10:14.842-07:00</updated><title type='text'>Romantis dengan matematika</title><content type='html'>Romantis dengan Matematika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang kuliah, saat jeda sejenak, sambil tersenyum ramah seorang dosen matematika berkata pada para mahasiswa dan mahasiswinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata orang, kita belum dikatakan sebagai matematikawan sejati kalau belum mampu berkarya sastra, menulis puisi yang romantis misalnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa begitu, Pak?” celetuk seorang mahasiswi, sengaja iseng bertanya agar dosennya lupa melanjutkan perkuliahan dan berharap berlama-lama membahas tentang hal yang barusan dikatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tentu ada alasan yang masuk akal kenapa seorang matematikawan belum dikatakan sebagai matematikawan sejati bila belum mampu menulis karya sastra,” kata sang dosen sambil berpikir mencari-cari pembenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu para mahasiswa diam terkesima, sepertinya menunggu alasan logis yang akan dikatakan dosen mereka, Pak Zero namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata orang, karya sastra bisa jadi merupakan bentuk capaian puncak intelektualitas seseorang. Karenanya, wajar belum dikatakan matematikawan sejati bila belum bisa berkarya sastra,” begitu alasan yang keluar dari mulut sang dosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, pasti si bapak sering baca artikel-artikel yang ada di blog Bicara Matematika. Makanya dia bisa bicara begitu,” kata Tom, salah seorang mahasiswa Pak Zero, sambil berbisik pada teman duduk di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, sepertinya dia pernah baca artikel Gadis Manis di Jendela,” Jerry membenarkan perkataan Tom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, kalau begitu coba dong beri kami contoh puisi buatan bapak,” kata mahasiswi tadi dengan rasa kepingin yang tinggi. Karena sebetulnya dia naksir berat dengan Pak Zero, yang kebetulan masih bujangan. :mrgreen:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tersenyum, berpikir, kemudian Pak Zero menulis–di papan tulis –sebuah puisi berikut ini. Sebetulnya puisi ini sengaja dibuat untuk seorang mahasiswi yang ditaksirnya, ada di ruang kuliah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ragukan bahwa 2 + 2 = 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ragukan bahwa 2 \times 2 = 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ragukan bahwa 2^2 = 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tapi, jangan ragukan bahwa hanya padamu hatiku terpikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ough…. so sweeeeet!!! Romantis bangeeeets!!!” begitu gumam para mahasiswi yang naksir berat pada Pak Zero, termasuk mahasiswi yang selalu bertanya-tanya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waauw, gombal bangeeeets!!!” gerutu para mahasiswi yang juga tidak terlalu naksir, tapi sudah sangat berpengalaman dalam hal pacaran.  Sedangkan para mahasiswa hanya tersenyum-senyum, sedikit  tertawa, kagum pada dosennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu sang mahasiswi yang ditaksir oleh Pak Zero hanya bisa diam. Tersipu. Antara senang yang membuncah dan malu yang menyelimut. Tampak bersemu merah parasnya. Manis senyumnya. Cantik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm… puisi romantis dari seorang yang biasa kaku dengan angka-angka,” gumam dalam hati sang mahasiswi dambaan hati Pak Zero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Pak Zero mengulas panjang lebar puisi buatannya. Para mahasiswa menyimak sambil cengar-cengir, tersindir sekaligus terpesona membenarkan perkataan dosennya. Hingga waktu kuliah usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang kerjanya, saat istirahat, Pak Zero mengirim pesan singkat, alias sms*, pada mahasiswi yang sudah lumayan lama ditaksirnya tadi. Pak Zero tahu nomor ponsel sang mahasiswi karena sang dambaan hati pernah menghubunginya, saat terlambat mengumpulkan tugas. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Puisi tadi saya buat khusus untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat, penuh makna. Begitulah isi sms yang dikirim Pak Zero yang tetap menjaga kesantunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama pesan tadi terkirim. Tiba-tiba ada pesan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Zero deg-degan, GR, berharap sms yang masuk dari gadis yang ditaksirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pak, puisi yang tadi di kelas, buat saya ya…? Tukeran dong…  :-)   :-) *Duh maluuuu… kabur  aaaaaah….*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian isi pesan singkat barusan. Tak ada nama pengirim. Tapi Pak Zero menduga bahwa sms tersebut berasal dari salah seorang mahasiswinya. Antara senang, GR, malu, berbaur tidak karuan. Tapi sayang, sms tersebut bukan dari mahasiswi yang ditaksirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng, Pak Zero membalas sms tersebut. Sekedar menghargai penggemar rahasianya agar tidak menyakiti hati orang. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dituker pake apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu jawabannya, cukup diplomatis, pura-pura tidak mengerti…  :D :mrgreen:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa saat, setelah membalas sms gelap tadi, berulang kali ponsel Pak Zero bergetar,  menerima berulang-ulang sms dari sang pengirim gelap tersebut. Isinya macam-macam: puisi, pantun, dan ungkapan keterpesonaan, cinta, kekaguman sang pengirim pada Pak Zero. Tapi, Pak Zero bergeming, dingin, tidak menanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Zero hanya berharap mendapat balasan dari sang mahasiswi yang ditaksirnya. Sayang, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Seharian dia menunggu, tak juga ada balasan sms dari sang gadis kekasih hati, harapan cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini berarti cintanya ditolak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, ponsel Pak Zero bergetar. Senang, gembira, malu, GR, dag-dig-dug bersatu mengaduk-aduk hatinya. Empat pesan yang saling menyambung diterima dari sang mahasiswi dambaan hati,  sang gadis impian– seperti berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Assalamu’alaikum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pak Zero, bapak adalah dosen yang saya kagumi; Dosen yang mampu menginspirasi saya untuk terus berprestasi; Dosen yang memberi teladan bagaimana caranya mengejar cita-cita,  membahagiakan kedua orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mmmm….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Terimakasih  atas puisinya. Romantis! Saat membacanya, saya merasakan sebuah ledakan perasaan yang dahsyat dari hati bapak. Ungkapan hati yang meluap-luap. Ungkapan jujur dari satu jiwa yang mendamba potongan terbaik mozaik hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tapi,  bapak perlu tahu, saya hanyalah gadis biasa, mungkin tak seperti yang bapak angankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mmmm…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saat ini saya  masih ingin menjaga hati dalam bentuk dan warna yang sama. Warna merah hati biasa. Bukan merah jambu yang bapak tunggu. Belum saatnya saya mengiris hati ini, membelahnya untuk orang lain. Hanya waktu yang akan menjawab: kapan dan untuk siapa hati ini saya berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Maaf,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wassalamu’alaikum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-4482299202554837019?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/4482299202554837019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/04/romantis-dengan-matematika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/4482299202554837019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/4482299202554837019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/04/romantis-dengan-matematika.html' title='Romantis dengan matematika'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-984714136895342806</id><published>2009-04-09T00:07:00.003-07:00</published><updated>2009-04-09T00:07:51.860-07:00</updated><title type='text'>poem of math</title><content type='html'>Bekasi. 10:30:56 PM Monday, 12 May, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi cinta matematika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sayang hangus pipi-ku&lt;br /&gt;andai tidak betapalah malunya aku&lt;br /&gt;seorang kawan membayangkan :&lt;br /&gt;kau serupa petugas sensus kawan,&lt;br /&gt;menghitung cinta yang setiap kali mampir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetapi cuma tangis, kawan&lt;br /&gt;yang coba kusembunyikan darimu&lt;br /&gt;dengan senyum terbelenggu&lt;br /&gt;lelahnya aku, kawan&lt;br /&gt;tetap kugerak-gerakkan badan&lt;br /&gt;tak ingin kaupajang kasihan&lt;br /&gt;pada tajam tembus-mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seorang kawan membayangkan,&lt;br /&gt;tak taulah dia&lt;br /&gt;terkapar di dalam&lt;br /&gt;menghapus-hapus semua kenangan&lt;br /&gt;atas jiwa-jiwa yang terlukai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguhlah kawan&lt;br /&gt;cinta matematika&lt;br /&gt;menisbikan hati&lt;br /&gt;mengcosinuskan jiwa&lt;br /&gt;tolonglah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-984714136895342806?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/984714136895342806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/04/poem-of-math.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/984714136895342806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/984714136895342806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/04/poem-of-math.html' title='poem of math'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-8745869350060344341</id><published>2009-04-01T23:57:00.000-07:00</published><updated>2009-04-01T23:59:26.704-07:00</updated><title type='text'>PEMBERONTAKAN RAKYAT CIREBON</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;Latar Belakang Masalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Dalam masyarakat agraris Jawa, tanah dan tenaga kerja merupakan modal pokok bagi produksi pertanian. Menjelang akhir abad ke-18 struktur agraris mempunyai bentuk yang mencerminkan pengaruh-pengaruh kuat dari struktur kekuasan feodal. Untuk mendapatkan produksi yang semakin besar, raja serta pemegang &lt;i&gt;apanage&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;nya, VOC (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Vereenigde Oost Indische Compagnie)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;, para bupati dan pembantu-pembantunya, menekan petani secara lebih intensif. Kenaikan produksi menambah volume ekspor VOC ke negara induk, sehingga akumulasi modal menumpuk di sana. Di sisi lain modal yang digunakan untuk menambah kesejahteraan petani sangat sedikit sekali jumlahnya. Pendapatan yang diperoleh bupati dan pejabat di sekitarnya digunakan untuk menopang gaya hidup yang mewah. Intensifikasi pertanian dengan teknologi tradisional tidak mengubah sifat homogen masyarakat, oleh karena itu kehidupan para petani tetap tidak berubah dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; color: black; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;semakin memburuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;. Kekuasaan perdagangan tetap dikuasai VOC sebagai pemegang monopoli lewat kekuasaan politik. Kebijaksanaan politiknya ialah berupa sistem pemerintahan tidak langsung dengan memberikan kekuasaan kepada para bupati. Dengan demikian para bupati diperkuat kekuasaaannya dan lebih mampu memungut hasil-hasil yang diminta VOC, yaitu &lt;i&gt;contingenten&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; verplichte leveranties&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/i&gt; Penetrasi kapitalisme komersial yang dijalankan oleh VOC, menuntut rakyat agar menanam tanaman ekspor dan membiarkan mereka hidup dalam subsistensi berdasarkan pola agraris tradisional.&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dengan mempertahankan sistem swadaya seperti itu VOC menambah beban yang sangat berat.&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Di akhir abad ke-18 para pejabat VOC mulai merasakan bahwa kompeni tidak lagi memperoleh apa yang seharusnya mereka dapatkan. Penyebab tumbuhnya perasaan seperti itu karena penduduk disekitar bandar-bandar pelabuhan besar dan kota-kota karesidenan, terlihat tumbuh dengan pesat. Tanah-tanah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;digarap&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga bertambah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;luas, tetapi jumlah &lt;i&gt;cacah&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;dari tiap kabupaten tetap tidak berubah bahkan semakin kecil jumlahnya. Kecilnya jumlah setoran yang diperoleh dimungkinkan adanya manipulasi dari para bupati, hasil pungutan lebih besar daripada yang dilaporkan. Banyaknya bupati yang melakukan manipulasi untuk menopang gaya hidupnya yang mewah, akibatnya mereka terdorong untuk menyewakan seluruh tanah desa kepada orang-orang Cina, untuk mendapatkan pembayaran tunai dengan segera. Desa-desa yang tanahnya disewakan mengabdi sepenuhnya kepada tuan tanah Cina.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Selama jangka waktu persewaan itu, pihak penyewa mempunyai kedudukan seperti pejabat VOC atau bupati. Pihak penyewa memiliki kekuasaan untuk menarik penghasilan dan menuntut jasa penduduk yang desanya disewakan. Kekuasaannya itu dilakukan selama waktu sewa, misalnya 3, 5, 8 atau 10 tahun. Para pejabat VOC akhirnya banyak yang mengikuti perilaku bupati, untuk memperoleh uang pengganti &lt;i&gt;cacah&lt;/i&gt; dengan menyewakan desa-desa&lt;i&gt;.&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;Dengan demikian, hak-hak feodal dipindahkan kepada penyewa yang sudah tentu mempunyai hasrat besar untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya.&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Dipandang dari sudut petani, beban yang dipikul menjadi sangat berat. Petani tidak hanya dibebankan untuk menyerahkan hasil pertanian dan pajak kepada orang-orang Cina, namun juga tenaganya diperas. Di samping itu petani juga harus mengadakan produksi untuk penguasa dengan perantaraannya dan tambahan lagi di atasnya pelbagai hasil yang perlu disetor kepada VOC.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Kondisi petani yang terdesak tersebut menimbulkan reaksi dalam bentuk gerakan perlawanan. Kehidupan subsistensi yang tidak dapat ditoleransi lagi merupakan ciri timbulnya perlawanan. Tuntutan penyerahan hasil pertanian dan penyerahan tenaga kerja oleh orang-orang Cina menimbulkan suasana ketidakpuasan. Guna menciptakan kembali situasi seperti sebelum adanya orang-orang Cina dan residen yang telah memerasnya, maka dibuat ideologi tandingan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Elite pedesaan sebagai pimpinannya menandingi ideologi kolonial yang selama ini dipandang stagnan dan menyebabkan ketidakdinamisan lembaga-lembaga tradisional. Menurut elite tersebut lembaga dan masyarakat yang sudah menyatu merupakan kehidupan kolektif. Tidak berfungsinya lembaga tradisional berarti kehidupan masyarakat pedesaan menjadi kurang bermakna sekaligus menghilangkan eksistensi dan jati diri masyarakat tradisional.&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Dilihat dari lokasinya maka perlawanan petani dibedakan menjadi dua tempat, yaitu di pusat kerajaan dan di pinggiran. Daerah pinggiran biasanya dijadikan basis perlawanan. Namun, aliansi dua lokasi terjadi karena keduanya saling tergantung dalam memimpin dan mengalokasikan kekuatan menghadapi penguasa. Selain itu, konflik di dalam istana terus berkembang ke luar dan pecah sebagai gerakan pemberontakan petani di pedesaan. Pemberontakan rakyat Cirebon 1802-1818 merupakan ekspresi ketidakpuasan petani dalam bentuk gerakan pemberontakan yang meluas dari pusat kerajaan ke pedesaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Protes sosial para petani Cirebon terjadi di daerah pertanian. Para petani merasa dirugikan oleh orang-orang Cina dan residen. Oleh karena itu, mereka melakukan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial dan mengadakan pembunuhan terhadap orang-orang Cina. Permasalahan kehidupan sosial-ekonomi yang lama terpendam dan buruk ini, akhirnya melahirkan kekuatan perlawanan menjadi besar dengan skalanya yang luas. Perlawanan itu dipimpin oleh Bagus Rangin, seorang bangsawan dari daerah Jatitujuh Majalengka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;.&lt;a style="" href="#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Pemberontakan rakyat Cirebon, dapat digolongkan sebagai gerakan &lt;i&gt;nativistis&lt;a style="" href="#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;messianistis&lt;a style="" href="#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;/i&gt;Harapan akan datangnya Ratu Adil bertujuan melawan pemerintah kolonial dan orang-orang Cina, juga kemudian hendak mendirikan sebuah kerajaan baru yaitu &lt;i&gt;Negara Panca Tengah &lt;/i&gt;yang beribukota di Bantarjati. Bagus Rangin akan bertindak sebagai rajanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Sebelum gerakan pemberontakan tersebut berhasil mencapai tujuannya, Bagus Rangin sebagai pimpinan pemberontakan berhasil ditangkap. Meskipun demikian, sempat muncul pemberontakan kecil tahun 1816 dan tahun 1818, di bawah pemimpin yang lain yaitu Bagus Jabin dan Nairem. Para pemimpin pemberontakan ini pun berhasil ditangkap oleh Belanda. Dengan ditangkapnya para pimpinan pemberontakan, rakyat Cirebon kehilangan semangat juangnya untuk melakukan pemberontakan kembali dan akhirnya pemberontakan di Cirebon berhenti pada tahun 1818.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;B.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Alasan Pemilihan Judul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;1. Alasan Objektif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Pemberontakan di Cirebon merupakan bagian sejarah lokal Indonesia yang belum banyak diungkap. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Pemberontakan rakyat Cirebon tidak jauh berbeda dengan kasus-kasus gerakan pemberontakan di daerah lain pada abad ke-19, namun sempat munculnya pemimpin pemberontakan yang lain setelah tewasnya Bagus Rangin menjadi daya tarik untuk dikaji. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;2. Alasan Subjektif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Ketertarikan untuk mengungkap sejarah perlawanan rakyat daerah Cirebon terutama masa kolonial Belanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Mencoba untuk menelaah dan mengkaji langkah-langkah yang dilakukan Bagus Rangin sebagai pimpinan pemberontakan rakyat Cirebon terhadap pemerintah kolonial Belanda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;C.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Batasan Judul dan Rumusan Masalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 27pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;1. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Batasan Judul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Untuk menghindari salah tafsir dan melebarnya permasalahan yang dibahas, maka batasan judul yang akan dibahas yaitu “Pemberontakan Rakyat Cirebon 1802-1818”. Maka penulis memberikan batasan beberapa kata yang penting dari judul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;Pemberontakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;berasal dari kata dasar “berontak” yang mendapat awalan pe- dan akhiran –an. Berontak berarti meronta-ronta hendak melepaskan diri (melawan dan sebagainya). Sedangkan pemberontakan berarti melawan atau penentangan terhadap kekuatan yang sah.&lt;a style="" href="#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;b.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rakyat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt; adalah penduduk suatu negara; anak buah; orang kebanyakan, orang biasa dan pasukan (balatentara).&lt;a style="" href="#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Rakyat Cirebon yang dimaksud disini adalah penduduk atau orang kebanyakan yang ada di Cirebon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;c.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cirebon &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;adalah sebuah daerah karesidenan, yang meliputi &lt;i&gt;regentschap &lt;/i&gt;Cirebon, Kuningan, Majalengka dan Indramayu.&lt;a style="" href="#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 32.9pt; text-indent: -14.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;d. Tahun 1802-1818 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;adalah waktu terjadinya rentetan pemberontakan, yang meletus pertama kali tahun 1802 dan berakhir tahun 1818. Pemberontakan tidak terjadi setiap tahun, namun ada dua periode pemberontakan besar yaitu tahun 1802-1812 pemberontakan dipimpin oleh Bagus Rangin dan periode tahun 1816-1818 pemberontakan dipimpin oleh Bagus Jabin dan Nairem.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;2. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rumusan Masalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 36pt; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;Berdasarkan atas latar belakang masalah dan batasan judul yang telah diuraikan diatas, dalam penelitian ini diajukan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Bagaimana kondisi yang melatarbelakangi pemberontakan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Bagaimana jalannya pemberontakan rakyat Cirebon?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Dampak apa yang ditimbulkan dari pemberontakan rakyat Cirebon?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;D.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kajian Pustaka dan Historiografi yang Relevan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;1. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kajian Pustaka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Paramita R. Abdurachman dalam bukunya &lt;i&gt;Cerbon &lt;/i&gt;menjelaskan tentang pemberontakan rakyat Cirebon yang dipimpin Bagus Rangin meskipun secara garis besar. Kondisi perekonomian di pedesaan Cirebon dijelaskan bahwa desa-desa hampir secara keseluruhan disewakan kepada orang-orang Cina oleh para bupati dan residen. Penyerahan tenaga kerja, penyerahan pajak dan hasil pertanian penduduk dibeli dengan harga sangat rendah oleh residen. Kondisi sosial dijelaskan bahwa bencana kelaparan dan wabah penyakit sempat melanda Cirebon akhir abad 18, mengakibatkan banyak penduduk Cirebon meninggal dunia.&lt;a style="" href="#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Persoalan hak waris Sultan Kanoman dianggap sebagai penyebab timbulnya pemberontakan. Rakyat melakukan pemberontakan dan mengidentifikasi diri dengan Sultan Kanoman yang tercabut hak warisnya. Para pemberontak ini berhasil dihimpun Bagus Rangin untuk melakukan pemberontakan yang lebih besar. Di daerah Jatitujuh Majalengka, merupakan pusat gerakan Bagus Rangin dalam rangka membicarakan strategi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Bagus Rangin menganggap residen Belanda telah merampas tanah warisan nenek moyangnya, untuk digunakan sendiri oleh residen itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Bersama para pengikutnya Bagus Rangin melakukan pemberontakan di Cirebon, bahkan sampai meluas ke luar karesidenan Cirebon. Dalam perjalanannya selanjutnya, Bagus Rangin hendak mendirikan negara Panca Tengah dan mengangkat dirinya sebagai raja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Gerakan pemberontakan ini menemui kegagalan setelah Bagus Rangin dan para pengikutnya ditangkap oleh pemerintah kolonial pada tahun 1812. Namun demikian, gerakan pemberontakan rakyat Cirebon ini sempat muncul kembali di bawah pemimpin lainnya, yaitu pemberontakan tahun 1816 di bawah pimpinan Bagus Jabin dan pemberontakan tahun 1818 di bawah pimpinan Nairem. Kedua pemberontakan terakhir pun menemui kegagalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebagai teori pendukung pada bab II, penjelasan Sartono Kartodirdjo&lt;a style="" href="#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; akan digunakan untuk mengungkap penyebab timbulnya pergerakan sosial. Dalam situasi kolonial dominasi ekonomi dan politik mengakibatkan disorganisasi masyarakat tradisional beserta lembaga-lembaganya. Dengan masuknya ekonomi keuangan faktor-faktor produksi, seperti tanah, tenaga buruh dan hasil bumi diperdagangkan, sistem pajak juga menambah berat beban rakyat. Dalam bidang politik banyak ketegangan dan ketidakstabilan timbul karena penetrasi yang semakin meluas dari administrasi yang bersifat legal-rasional, sedangkan lembaga-lembaga politik tradisional semakin terdesak. Oleh karena dalam sistem kolonial tidak terdapat lembaga-lembaga untuk menyalurkan perasaan tidak puas, jalan yang ditempuhnya adalah gerakan sosial sebagai protes sosial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Mengenai ideologi dan kepemimpinan pada bab III akan dijelaskan memakai teori Sartono Kartodirdjo.&lt;a style="" href="#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Untuk menjelaskan proses gerakan (bab III) digunakan teori pendukung &lt;i style=""&gt;collective action &lt;/i&gt;oleh Charles Tilly. &lt;i style=""&gt;Collective action, &lt;/i&gt;seperti yang dirumuskan Tilly, adalah suatu peristiwa ketika “orang bersama-sama berjuang untuk mencapai kepentingan bersama” (&lt;i style=""&gt;people acting together in pursuit of common interest&lt;/i&gt;).&lt;a style="" href="#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Orang bertindak besama-sama menurut Tilly, bisa terjadi kerena dua hal, yaitu (a) dorongan dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;luar seperti yang dikemukakan dalam pendekatan struktural, dan (b) karena motivasi individu tertentu dalam masyarakat seperti dikemukakan dalam pendekatan individualis. Menurut Tilly faktor penyebab &lt;i style=""&gt;collective action&lt;/i&gt; adalah &lt;i style=""&gt;pertama,&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;competitive collective action,&lt;/i&gt; yaitu adanya dua pihak atau lebih yang bersaing untuk merebut atau menegakkan sesuatu, biasanya faktor penyebabnya adalah kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat (&lt;i style=""&gt;dispositio&lt;/i&gt;n); &lt;i style=""&gt;kedua&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;reactive collective action,&lt;/i&gt; upaya kelompok masyarakat untuk mengembalikan hak-hak yang mapan yang telah digusur pihak tertentu, terutama Negara dan lembaga-lembaganya; &lt;i style=""&gt;ketiga proactive action&lt;/i&gt;, yaitu upaya kelompok masyarakat untuk menciptakan suatu struktur sosial yang baru yang sebelumnya tidak ada. Teori &lt;i&gt;reactive collective action &lt;/i&gt;Tilly bisa menjelaskan bahwa pemberontakan rakyat Cirebon memperlihatkan kolektifitas kelompok pemberontak, dalam hal ini kelompok pemberontak atas dasar jiwa revolusi yang membenci penjajahan dan intimidasi dalam bentuk apapun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Sebagai teori pendukung kondisi ekonomi mengenai persewaan desa oleh orang Cina pada bab II, dianalisis dengan pendapat Eric R. Wolf dalam bukunya &lt;i&gt;Petani suatu Tinjauan Antropologis. &lt;/i&gt;Persewaan desa kepada orang Cina telah menimbulkan hubungan kontrak antara pemerintah kolonial atau penguasa pribumi dengan Cina. Akan tetapi hubungan antara Cina dengan penduduk di atas tanah yang disewa tetap merupakan hubungan feodal. Perubahan dalam hubungan sosial seperti ini telah mengganti hubungan tradisional dan mendorong timbulnya ketegangan yang dapat menuju pemberontakan.&lt;a style="" href="#_ftn19" name="_ftnref19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;2. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Historiografi yang Relevan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam penulisan sejarah kritis, tidak lepas dari kajian pustaka dan historiografi yang relevan. Historiografi adalah rekonstruksi sejarah melalui proses menguji dan menganalisis sejarah kritis rekaman dan peninggalan masa lampau.&lt;a style="" href="#_ftn20" name="_ftnref20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Historiografi dapat berbentuk bukti-bukti sejarah, artikel, skripsi, tesis dan disertai karya-karya lain yang dapat dipertanggungjawabkan secara valid. Dengan berpedoman pada karya-karya yang memenuhi syarat, suatu karya sejarah akan bersifat obyektif. Dalam penulisan “Pemberontakan Rakyat Cirebon 1802-1818” digunakan historiografi yang relevan, antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Pertama, buku yang berjudul &lt;i&gt;Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme Kolonialisme di Jawa Barat &lt;/i&gt;(1990)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Buku ini disusun oleh tim yang terdiri dari Edi S. Ekadjati, Rosad Amidjaja, Didi Suryadi dan Erna Sutarna berisi berbagai perlawanan terhadap kekuasaan asing yang ada di Jawa Barat, termasuk Cirebon. Edi S. Ekadjati membahas tentang pemberontakan Bagus Rangin di Cirebon. Masalah yang dibahas yaitu awal mula pemberontakan dan jalannya pemberontakan, dalam dua periode yaitu tahun 1802-1812 dan 1816-1818. Bagus Rangin sebagai pimpinan pemberontakan digambarkan dengan jelas juga tokoh-tokoh pemberontakan lain yang terlibat dalam pemberontakan ini. Buku ini hanya memaparkan proses terjadinya pemberontakan, sedangkan latar belakang terjadinya pemberontakan kurang mendapat perhatian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Kedua, &lt;i&gt;Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon &lt;/i&gt;(2001)&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;buku ini ditulis oleh M. Sanggupri Bochari dan Wiwi Kuswiah, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta. Buku ini berisi tentang sejarah kerajaan Cirebon, masalah yang dibahas yaitu Cirebon sejak Sunan Gunung Jati hingga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;abad 20. Faktor sosial ekonomi sebagai penyebab munculnya pemberontakan dibahas dalam buku ini dan sedikit disinggung jalannya pemberontakan. Namun dampak pemberontakan tidak dibahas sama sekali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Ketiga, buku yang berjudul &lt;i&gt;Cerbon &lt;/i&gt;(1982), buku ini ditulis oleh tim Yayasan Mitra Budaya, Abdurahman Paramita sebagai penyunting terdiri dari kumpulan tulisan yang cukup lengkap mengenai Cirebon. Termasuk latar belakang sejarahnya yang ditulis oleh Sulaeman Setyawati. Rentetan peristiwa yang terjadi di Cirebon dan perjumpaan dengan Belanda mewarnai sejarah Cirebon. Sepanjang abad ke-18, bencana alam dan bencana yang diciptakan manusia membuat miskin rakyat Cirebon. Kondisi sosial yang buruk ini merupakan salah satu penyebab timbulnya pemberontakan rakyat Cirebon sepanjang abad 18 dan awal abad 19. Buku ini hanya berisi garis besar sejarah Cirebon saja, sedangkan detail-detail pemberontakan yang terjadi tidak dibahas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Keempat, R. H. Unang Sunardjo SH. (1983). &lt;i&gt;Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809. &lt;/i&gt;Bandung: Tarsito. Buku ini berisi gambaran rangkaian peristiwa campur tangan pemerintah kolonial Belanda di kerajaan Cirebon sampai kehilangan kekuasaannya. Unang Sunardjo tidak sedikitpun menyinggung pemberontakan yang terjadi tahun 1802-1818, akan tetapi keadaan politik tahun 1802-1818 bisa mengungkap penyebab timbulnya pemberontakan rakyat Cirebon. Dalam buku ini isinya hanya gambaran politik yang ada dalam kerajaan Cirebon, sedangkan aspek di luar kerajaan tidak disinggung sama sekali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kelima, buku: P. H Van Der Kemp. (1979). &lt;i&gt;Pemberontakan Cirebon Tahun 1818. &lt;/i&gt;Jakarta: Yayasan Idayu. Buku ini berisi tentang pemberontakan tahun 1816 dan 1818 dengan tokoh-tokoh pemberontak yaitu Bagus Jabin, Bagus Serit dan Nairem. Pemberontakan tahun 1818 yang dibahas van Der Kemp seperti tidak ada kaitannya dengan pemberontakan tahun 1812, padahal pemberontakan 1818 merupakan kelanjutan pemberontakan dari tahun 1812. Oleh karena itu pemberontakan yang terjadi 1802-1812 harus diungkap dan dijelaskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;E.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ruang Lingkup dan Pendekatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;1. &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Ruang Lingkup &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Untuk tidak melebarkan penulisan pada hal-hal yang tidak berkaitan dengan masalah yang ditulis, maka penulisan skripsi ini dilakukan pembatasan penulisan berdasarkan: ruang lingkup penulisan &lt;i&gt;temporal &lt;/i&gt;(waktu), &lt;i&gt;spacial &lt;/i&gt;(tempat) dan lingkup pembahasan. Secara &lt;i&gt;temporal&lt;/i&gt; penulisan ini mengambil kurun waktu 1802-1818, pemberontakan pertama kali terjadi tahun 1802&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan berakhir pada tahun 1818. Secara &lt;i&gt;spacial&lt;/i&gt; atau lingkup tempat, yaitu Cirebon sebagai daerah munculnya pemberontakan. Lingkup permasalahan meliputi kondisi yang melatarbelakangi pemberontakan, jalannya pemberontakan serta dampak pemberontakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;2.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Pendekatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Perkembangan metodologi sejarah, menurut sejarawan harus ada usaha saling mendekatkan antara sejarah dan ilmu-ilmu sosial. Oleh karena itu, untuk menganalisis berbagai peristiwa dari masa lalu, sejarawan harus menggunakan konsep-konsep dari berbagai ilmu sosial yang relevan dengan kajian pokoknya.&lt;a style="" href="#_ftn21" name="_ftnref21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dalam penelitian ini akan menekankan pendekatan pada aspek ekonomis, sosiologis dan politis dalam meninjau permasalahan.&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 45pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;Pendekatan ekonomis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt; adalah konsep-konsep ekonomi sebagai pola distribusi alokasi dan konsumsi yang berkaitan dengan sistem sosial dan stratifikasi.&lt;a style="" href="#_ftn22" name="_ftnref22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pendekatan ekonomi ini dimaksudkan untuk mengetahui keadaan-keadaan perekonomian penduduk Cirebon sebelum meletusnya pemberontakan. Penguasaan ekonomi di Cirebon, sebagian besar terletak ditangan para pendatang, seperti Arab dan Cina. Ketika sistem persewaan desa sedang menjamur di pulau Jawa, Cirebon pun tidak luput dari perhatian, karena banyak sekali desa-desa disewakan kepada orang-orang Cina oleh residen Cirebon. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 45pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;Pendekatan sosiologis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt; akan membantu mengungkapkan unsur-unsur sosial dalam satu deskripsi, antara lain berkaitan dengan struktur sosial, sistem politik, jaringan interaksi, struktur organisasi dan pola kelakuan atau perilaku.&lt;a style="" href="#_ftn23" name="_ftnref23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pendekatan sosiologis ini digunakan untuk mengetahui bagaimana kehidupan sosial masyarakat Cirebon dengan kedatangan pemerintah Belanda hingga timbulnya pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat Cirebon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 45pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;Pendekatan politik &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;menurut Sartono Kartodirdjo adalah pendekatan yang menyoroti struktur kekuasaan, jenis kepemimpinan, hirarkhi sosial dan pertentangan kekuasaan.&lt;a style="" href="#_ftn24" name="_ftnref24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pendekatan politik juga diartikan dengan segala aktivitas atau sikap yang berhubungan dengan kekuasaan. Dalam penulisan ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh pimpinan pemberontakan dan kebijakan yang dilakukan pemerintah pribumi maupun kolonial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;F.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sumber Penulisan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;Sumber merupakan hal yang penting dalam penyusunan karya sejarah. Tanpa adanya sumber tidak akan dapat direkonstruksi peristiwa sejarah menjadi sebuah kisah. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sartono Kartodirdjo bahwa sumber penelitian sejarah merupakan modal utama untuk merekonstruksi peristiwa sejarah, karena dari sumber itu dapat ditarik fakta yang kemudian menjadi dasar usaha untuk menghidupkan masa lampau.&lt;a style="" href="#_ftn25" name="_ftnref25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada dasarnya sumber sejarah dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sumber primer dan sumber sekunder.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;1.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sumber Primer&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Sumber Primer adalah kesaksian dari seseorang dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mata kepala sendiri atau saksi dengan panca indera melihat suatu peristiwa.&lt;a style="" href="#_ftn26" name="_ftnref26" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dari pendapat Louis Gottschalk di atas dapat disimpulkan bahwa sumber primer adalah yang secara langsung didapat atau ditulis melalui orang pertama atau saksi yang hidup semasa peristiwa berlangsung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Dalam penulisan skripsi ini menggunakan sumber primer antara lain sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Inventaris Arsip Cirebon 39/8, &lt;i&gt;Ondervraging van Bagoes Manoch en Bagoes Rangin, &lt;/i&gt;Koleksi Arsip Nasional,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;26 Januari 1812. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Inventaris Arsip Cirebon 41-42, &lt;i&gt;Rapport Betreffende de Onlusten in Cheribon, &lt;/i&gt;Koleksi Arsip Nasional&lt;i&gt; &lt;/i&gt;1806.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Kemp, P. H. Van Der, 1979, &lt;i&gt;Pemberontakan Cirebon Tahun 1818, &lt;/i&gt;a.b. B. Panjaitan (De Cheribonsche Onlusten Van 1818), Jakarta: Yayasan Idayu. (Diterjemahkan dari catatan asli Kemp yang bertugas menumpas pemberontakan di Cirebon pada tahun 1816-1818).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;2.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Sumber Sekunder&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Sumber sekunder adalah kesaksian dari seseorang yang bukan merupakan saksi pandangan mata, yakni seseorang yang tidak hadir dalam peristiwa tersebut.&lt;a style="" href="#_ftn27" name="_ftnref27" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dapat disimpulkan bahwa sumber sekunder adalah sumber yang didapat bukan dari orang pertama atau orang yang hidup sejaman dengan peristiwanya. Dalam penulisan skripsi ini, digunakan sumber sekunder antara lain sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Adeng, dkk, 1998, &lt;i&gt;Kota Dagang Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra, &lt;/i&gt;Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Bochari, M. Sanggupri &amp;amp;. Wiwi Kuswiah, 2001, &lt;i&gt;Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon, &lt;/i&gt;Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Edi S. Ekadjati, dkk, 1990, &lt;i&gt;Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme Kolonialisme di Jawa-Barat, &lt;/i&gt;Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Haan, F. de, 1912, &lt;i&gt;Priangan: De Preanger Regents Chappen Onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811, &lt;/i&gt;Deerde deel, Batavia: G. Kolff &amp;amp; Co.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Nina Herlina Lubis, dkk, 2000, &lt;i&gt;Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat, &lt;/i&gt;Bandung: Alqaprint Jatinangor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Paramita R. Abdurachman, 1982, &lt;i&gt;Cerbon, &lt;/i&gt;Jakarta: Sinar Harapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Unang Sunardjo, 1983, &lt;i&gt;Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809, &lt;/i&gt;Bandung: Tarsito.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;G.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Metode Penulisan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Metode penelitian dalam skripsi ini menggunakan metode sejarah kritis,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yaitu studi pustaka dengan cara menganalisa secara mendalam tentang faktor-faktor kausal, kondisional, kontekstual, yang merupakan unsur-unsur komponen dan eksponen dari proses sejarah.&lt;a style="" href="#_ftn28" name="_ftnref28" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kuntowijoyo mengemukakan pokok-pokok kegiatan metode sejarah yang meliputi sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Heuristik &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;yakni menghimpun jejak-jejak masa lampau. Dengan kata lain heuristik mempunyai pengertian pencarian dan pengumpulan sumber-sumber sejarah. Setelah judul dan topik masalah dipilih maka langkah heuristik dilaksanakan dengan menghimpun jejak-jejak masa lampau, yang berupa buku-buku dan arsip yang berkaitan dengan pemberontakan rakyat Cirebon. Pengumpulan jejak-jejak dilakukan di Perpustakaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Perpustakaan pusat Universitas Gadjah Mada, Perpustakaan Kolese Ignatius, Perpustakaan Pusat Universitas Negeri Yogyakarta, Kantor Dinas Penanggung Jawab Sejarah Cirebon, Perpustakaan 400 Wilayah Cirebon, Perpustakaan Nasional Jakarta, dan Kantor Arsip Nasional&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jakarta.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Kritik sumber &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;yakni menyelidiki apakah jejak itu asli atau tidak, baik bentuk maupun isinya. Kritik sumber yang dilakukan ialah secara ekstern dan intern. Kritik ekstern bertujuan untuk menentukan ontentitas sumber baik keaslian sumber, tanggal, waktu pembuatan, serta pengarang. Kritik intern bertujuan untuk menentukan kredibilitas sumber dilihat dari isi, sumber atau dokumen, meliputi bahasa dan situasi pengarang, gaya dan ide.&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Interpretasi &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;yakni menerapkan makna saling berhubungan dari fakta-fakta yang diperoleh. Kegiatan ini mengkorelasikan fakta-fakta sejarah yang diperoleh setelah melalui kritik, baik ekstern maupun intern, sehingga memberikan kesatuan yang memberikan bentuk peristiwa masa lampau, dalam hal ini tentang Pemberontakan Rakyat Cirebon 1802-1818.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;4.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Penyajian &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;yakni penulis menyusun data-data yang sudah terkumpul dan dijadikan sebuah karya sejarah.&lt;a style="" href="#_ftn29" name="_ftnref29" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pada tahap ini adalah melakukan proses penulisan kisah sejarah (&lt;i&gt;historiografi&lt;/i&gt;) pemberontakan rakyat Cirebon 1802-1818.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;H. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tujuan Penulisan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;1. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tujuan Umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style=""&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai peristiwa sejarah Cirebon, sehingga dapat dijadikan sumber informasi bagi pembaca.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Mengembangkan kemampuan menulis sejarah agar menjadi seorang sejarawan profesional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;2. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tujuan Khusus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Memberikan gambaran tentang kondisi yang melingkupi pemberontakan rakyat Cirebon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Memberikan gambaran tentang proses terjadinya pemberontakan rakyat Cirebon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh pemberontakan rakyat Cirebon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;I.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Manfaat Penulisan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;b&gt;1. Bagi Pembaca&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;Memberikan bahan rujukan bagi penulisan sejarah terutama yang berkaitan dengan Pemberontakan Rakyat Cirebon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Dengan pemahaman yang baik, teliti dan obyektif diharapkan dapat memberikan nilai konstruktif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;2. Bagi Penulis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Selain sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana, juga menjadi tolok ukur kemampuan penulis dalam melakukan penelitian sejarah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Melalui penulisan skripsi ini dapat menambah cakrawala berfikir bagi penulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;  &lt;h4&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;J.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Garis Besar Isi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;BAB I. PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;Pada bab ini berisi latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, batasan judul dan rumusan masalah, ruang lingkup dan pendekatan, kajian pustaka dan historiografi yang relevan, sumber penulisan, metode penulisan, tujuan penulisan, manfaat penulisan serta garis besar isi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;BAB II. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;KONDISI YANG MELATARBELAKANGI PEMBERONTAKAN RAKYAT CIREBON&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;Pada bab kedua ini pembahasan diawali dengan penjelasan tentang kondisi geografis dan demografi Cirebon, yang terkait dengan kondisi alam dan keadaan penduduk. Untuk kondisi politik dan pemerintahan, dibahas mengenai struktur dan birokrasi pemerintah kerajaan Cirebon sejak kedatangan Belanda hingga proses campur tangan Belanda dalam mengatur segala kebijakan politik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang diterapkan di lingkungan kerajaan Cirebon. Selanjutnya dibahas pula kondisi sosial-ekonomi yang terkait dengan eksploitasi tanaman paksa dan keresahan-keresahan sosial. Sistem persewaan desa dan penarikan pajak, memunculkan pemerasan oleh residen dan orang Cina, merupakan salah satu pemicu timbulnya pemberontakan rakyat Cirebon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;BAB III. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;JALANNYA PEMBERONTAKAN RAKYAT CIREBON&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;Dalam bab III ini berisi tentang latar belakang munculnya pemberontakan rakyat Cirebon, kepemimpinan, ideologi, tujuan, organisasi, pengikut, strategi dan proses berlangsungnya pemberontakan rakyat Cirebon. Pemberontakan rakyat Cirebon ini pertama kali muncul tahun 1802 dan melahirkan seorang pemimpin yaitu Bagus Rangin. Pemberontakan sempat terhenti ketika pimpinannya tertangkap Belanda tahun 1812. Akan tetapi tahun 1816 muncul lagi pemberontakan dan berakhir tahun 1818. Sama seperti gerakan pemberontakan pada umumnya di kala itu, akhirnya pemberontakan rakyat Cirebon&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pun mengalami kegagalan dan kekalahan dari pemerintah kolonial Belanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;BAB IV.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;DAMPAK PEMBERONTAKAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt; &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;Dalam bab keempat ini akan membahas dampak-dampak pemberontakan, yang meliputi aspek politik, sosial dan ekonomi. Aspek politik dapat dilihat dari berkurangnya kewenangan-kewenangan pemerintah pribumi dalam menjalankan pemerintahan. Aspek sosial terkait dengan keadaan sosial penduduk akibat yang ditimbulkan dari pemberontakan. Sedangkan aspek ekonomi terlihat dari keadaan ekonomi akibat pemberontakan, apakah semakin baik atau semakin buruk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5 style="margin-left: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;BAB V. KESIMPULAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bagian ini berisi kesimpulan tentang pokok permasalahan yang terdapat dalam bab-bab sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Apanage &lt;/i&gt;atau tanah &lt;i&gt;lungguh &lt;/i&gt;adalah tanah jabatan sementara sebagai upah atau gaji seorang priyayi atau bangsawan. Tanah &lt;i&gt;apanage &lt;/i&gt;dapat dieksploitasi sehingga menghasilkan pajak yang berupa uang, barang dan tenaga kerja. Lihat Suhartono, 1991, &lt;i&gt;Apanage dan Bekel: Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta 1830-1920, &lt;/i&gt;Yogyakarta: Tiara Wacana, hlm. 29.&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;i&gt;Contingenten &lt;/i&gt;atau kontingensi&lt;i&gt; &lt;/i&gt;adalah sistem penyerahan produksi komoditi perdagangan berdasarkan kuota yang ditentukan setiap tahun. Penyerahan barang-barang yang diwajibkan jumlahnya ditetapkan, dengan mendapat pembayaran kembali, tetapi dalam jumlah sedikit sekali atau sama sekali tidak di bayar. Lihat Sartono Kartodirdjo &amp;amp; Djoko Suryo, 1991, &lt;i&gt;Sejarah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial Ekonomi, &lt;/i&gt;Yogyakarta: Aditya Media, hlm. 28. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;i&gt;Verplichte Leveranties&lt;/i&gt; atau leveransi wajib&lt;i&gt; &lt;/i&gt;yaitu sistem penyerahan wajib berupa penyerahan barang-barang yang jumlahnya berubah-ubah, dan dibeli dengan harga tertentu, misalnya dengan harga pasar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sistem kontingensi dan leveransi dikenakan pada suatu daerah atas berbagai dasar, yaitu penaklukan, perjanjian, atau kontrak antara kedua belah pihak. Sesuai dengan kontrak atau ketetapan dari pihak VOC, daerah penghasil komoditi perdagangan tertentu diharuskan menyerahkan sejumlah produksi yang telah ditetapkan kepada VOC melalui kepala pribumi setempat. &lt;i&gt;Ibid.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Sartono Kartodirdjo, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;1999, &lt;i&gt;Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900, &lt;/i&gt;Dari Emporium sampai Imperium, Jilid I, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;hlm 296-297.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Cacah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;berarti jumlah orang atau jumlah &lt;i&gt;sikep&lt;/i&gt;, tetapi kemudian juga berarti satuan tanah atau satuan pajak. &lt;i&gt;Cacah &lt;/i&gt;juga diartikan sebagai tenaga kerja yang menjadi tulang punggung agar sebidang tanah yang dikerjakan menghasilkan pajak atau upeti. Lihat Robert van Niel, 2003, &lt;i&gt;Sistem Tanam Paksa di Jawa, &lt;/i&gt;Jakarta: LP3ES, hlm. 210-211.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;i&gt;Ibid. &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Sartono Kartodirdjo, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;1999, &lt;i&gt;op&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;cit., &lt;/i&gt;hlm. 301.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; Sartono Kartodirdjo, 1967, “Pergerakan Sosial dalam Sejarah Indonesia”,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Yogyakarta, &lt;i&gt;disampaikan pada pidato dies Natalis ke-18 Universitas Gadjah Mada,&lt;/i&gt; hlm. 6-7.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;span style=""&gt;Edi S. Ekadjati, dkk, 1990, &lt;i&gt;Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme Kolonialisme di Jawa-Barat, &lt;/i&gt;Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,&lt;/span&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;h&lt;span style=""&gt;lm&lt;/span&gt;. 101-102. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;i&gt;Nativistis &lt;/i&gt;merupakan kategori gerakan yang bertujuan untuk menegakan kembali kerajaan kuno. Lihat Sartono Kartodirdjo, 1967, &lt;i&gt;op. cit., &lt;/i&gt;hlm. 9. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;i&gt;Messianistis &lt;/i&gt;merupakan&lt;i&gt; &lt;/i&gt;jenis gerakan yang bertujuan mengharapkan akan kedatangan Ratu Adil atau Imam Mahdi. &lt;i&gt;Ibid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; Depdikbud, 1990, &lt;i&gt;Kamus Umum Bahasa Indonesia, &lt;/i&gt;Jakarta: Balai Pustaka, hlm. 109.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn13"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;i&gt;Ibid., &lt;/i&gt;hlm. 812.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn14"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Paramita&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; R. Abdurachman, 1982, &lt;i&gt;Cerbon, &lt;/i&gt;Jakarta: Sinar Harapan, hlm. 11.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn15"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Paramita&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; R. Abdurachman, &lt;i&gt;op&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;cit.,&lt;/i&gt; hlm. 56.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn16"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; Sartono Kartodirdjo, 1967, &lt;i&gt;loc. cit&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn17"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;i&gt;Ibid., &lt;/i&gt;hlm. 15.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn18"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; R. Z. Leirissa, 2004, “Charles Tilly dan Studi tentang Revolusi”, &lt;i style=""&gt;Jurnal Sejarah,&lt;/i&gt; Vol. 6 No. 1, Jakarta: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia, hlm. 7-8.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn19"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref19" name="_ftn19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; Eric R. Wolf, 1983, &lt;i&gt;Petani Suatu Tinjauan Antropologis, &lt;/i&gt;Jakarta: CV Rajawali, hlm. 56.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn20"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref20" name="_ftn20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; F. R. Angker Smith, 1984, &lt;i&gt;Refleksi tentang Sejarah, &lt;/i&gt;Jakarta: Gramedia. hlm. 268.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn21"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref21" name="_ftn21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; Helius Syamsudin, 1996, &lt;i&gt;Metodologi Sejarah, &lt;/i&gt;Jakarta: Depdikbud, hlm. 201.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn22"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref22" name="_ftn22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;Sartono Kartodirdjo, 1993, &lt;i&gt;Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, &lt;/i&gt;Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm. 138.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn23"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref23" name="_ftn23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Ibid., &lt;/i&gt;hlm. 4.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn24"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref24" name="_ftn24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt; &lt;i&gt;Ibid.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn25"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref25" name="_ftn25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; Sartono Kartodirdjo, &lt;i&gt;1987, Pemikiran dan Perkembangan Historiografi, &lt;/i&gt;Jakarta: Gramedia, hlm. 83.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn26"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref26" name="_ftn26" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; Louis Gottschalk, 1986, “Understanding History: A Primer Historical Methode”, Terj. Nugroho Notosusanto, &lt;i&gt;Mengerti Sejarah, &lt;/i&gt;Jakarta: Universitas Indonesia Press, hlm. 35.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn27"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref27" name="_ftn27" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;i&gt;Ibid.&lt;/i&gt;, hlm. 35.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn28"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref28" name="_ftn28" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; Sartono Kartodirdjo, 1993, &lt;i&gt;op. cit.,&lt;/i&gt; hlm. 45.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn29"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref29" name="_ftn29" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt; Kuntowijoyo, 1996, &lt;i&gt;Pengantar Ilmu Sejarah, &lt;/i&gt;Yogyakarta: Bentang, hlm. 89.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-8745869350060344341?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/8745869350060344341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/04/pemberontakan-rakyat-cirebon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/8745869350060344341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/8745869350060344341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/04/pemberontakan-rakyat-cirebon.html' title='PEMBERONTAKAN RAKYAT CIREBON'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-303928924814219487</id><published>2009-03-24T19:44:00.001-07:00</published><updated>2009-03-24T19:44:48.640-07:00</updated><title type='text'>Dimana Gunungkidul?</title><content type='html'>&lt;h1 id="firstHeading" class="firstHeading"&gt;Kabupaten Gunung Kidul&lt;/h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Lambang_Kabupaten_Gunung_Kidul.jpg" class="image" title="Lambang Kabupaten Gunung Kidul.jpg"&gt;&lt;img alt="" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/d/d1/Lambang_Kabupaten_Gunung_Kidul.jpg" width="80" border="0" height="94" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="toccolours" style="float: right; width: 310px; margin-left: 1em; margin-bottom: 1ex;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr class="hiddenStructureHandayani (Hijau, Aman, Normatif, Dinamis, Amal, Yakin, Asah Asih Asuh, Nilai Tambah, Indah)" valign="top"&gt;&lt;td colspan="2" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Motto" title="Motto"&gt;Motto&lt;/a&gt;: Handayani (Hijau, Aman, Normatif, Dinamis, Amal, Yakin, Asah Asih Asuh, Nilai Tambah, Indah)&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Provinsi" title="Provinsi"&gt;Provinsi&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Istimewa_Yogyakarta" title="Daerah Istimewa Yogyakarta"&gt;D.I. Yogyakarta&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr class="hiddenStructure[[Wonosari]]" valign="top"&gt;&lt;td&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ibu_kota" title="Ibu kota"&gt;Ibu kota&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wonosari&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Wonosari (halaman belum tersedia)"&gt;Wonosari&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;b&gt;Luas&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;1.485,36 km²&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;b&gt;Penduduk&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt; · Jumlah&lt;/td&gt;&lt;td&gt;686.000 (2003)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt; · Kepadatan&lt;/td&gt;&lt;td&gt;462 jiwa/km²&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Locator_Kabupaten_Gunung_Kidul.png" class="image" title="Berkas:Locator Kabupaten Gunung Kidul.png"&gt;&lt;img alt="Berkas:Locator Kabupaten Gunung Kidul.png" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/cd/Locator_Kabupaten_Gunung_Kidul.png" width="249" border="0" height="168" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="toccolours" style="float: right; width: 310px; margin-left: 1em; margin-bottom: 1ex;"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr class="hiddenStructureHandayani (Hijau, Aman, Normatif, Dinamis, Amal, Yakin, Asah Asih Asuh, Nilai Tambah, Indah)" valign="top"&gt;&lt;td colspan="2" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr class="hiddenStructure[[Wonosari]]" valign="top"&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;b style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kabupaten Gunung Kidul&lt;/b&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;, adalah sebuah &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten" title="Kabupaten"&gt;Kabupaten&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; di &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Provinsi" title="Provinsi"&gt;Provinsi&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Istimewa_Yogyakarta" title="Daerah Istimewa Yogyakarta"&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia" title="Indonesia"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. Ibukotanya adalah &lt;/span&gt;&lt;b style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Wonosari&lt;/b&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. Kabupaten ini berbatasan dengan Provinsi &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah" title="Jawa Tengah"&gt;Jawa Tengah&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; di utara dan timur, &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Samudra_Hindia" title="Samudra Hindia"&gt;Samudra Hindia&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; di selatan, serta &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Bantul" title="Kabupaten Bantul"&gt;Kabupaten Bantul&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sleman" title="Kabupaten Sleman"&gt;Kabupaten Sleman&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; di barat. Kabupaten Gunung Kidul terdiri atas 18 &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kecamatan" title="Kecamatan"&gt;kecamatan&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;, yang dibagi lagi atas sejumlah &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Desa" title="Desa"&gt;desa&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelurahan" title="Kelurahan"&gt;kelurahan&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. Pusat pemerintahan di Kecamatan &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wonosari&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Wonosari (halaman belum tersedia)"&gt;Wonosari&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. Sebagian besar wilayah kabupaten ini berupa perbukitan dan pegunungan kapur, yakni bagian dari &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pegunungan_Sewu" title="Pegunungan Sewu"&gt;Pegunungan Sewu&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;table class="toccolours" style="float: right; width: 310px; margin-left: 1em; margin-bottom: 1ex; font-weight: bold;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;//&lt;![CDATA[  if (window.showTocToggle) { var tocShowText = "tampilkan"; var tocHideText = "sembunyikan"; showTocToggle(); }  //]]&gt; &lt;/script&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a name="Pusaka_dan_Identitas_Daerah" id="Pusaka_dan_Identitas_Daerah"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2 style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Pusaka dan Identitas Daerah&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;ul style="font-weight: bold;"&gt;&lt;li&gt;Tombak Kyai Marga Salurung&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;Pusaka tombak Kyai Marga Salurung merupakan pusaka pemberian dari Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Minggu 27 Mei 2001, saat Perayakan Hari Jadi ke-170 Kabupaten Gunungkidul.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;Tombak pusaka yang memiliki dhapur baru cekel, warangka kajeng sanakeling melambangkan agar Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tetap memiliki tekad utama untuk mencapai cita-cita luhur yang berakar kuat dan selalu berpihak kepada rakyat. Para pemimpin dan rakyatnya memiliki sikap salurung atau searah setujuan, seia sekata, saiyeg-saeka- kapti dalam koridor demokrasi yang berarti berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, yang sadar haknya, namun juga menghormati hak orang lain dan tahu pasti kewajibannya.&lt;/p&gt; &lt;ul style="font-weight: bold;"&gt;&lt;li&gt;Tombak Kyai Panjolo Panjul&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Songsong (Payung) Kyai Robyong&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a name="Batas_wilayah" id="Batas_wilayah"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2 style="font-weight: bold;"&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Batas wilayah&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;ul style="font-weight: bold;"&gt;&lt;li&gt;Utara : Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Timur : Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selatan : Samudra Hindia atau sering disebut dengan Pantai Laut Selatan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Barat : Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a name="Kecamatan" id="Kecamatan"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2 style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Kecamatan&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;ul style="font-weight: bold;"&gt;&lt;li&gt;Gedangsari&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Girisubo&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karangmojo&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ngawen&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nglipar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Paliyan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Panggang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Patuk&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Playen&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ponjong&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Purwosari&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rongkop&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saptosari&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Semanu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Semin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tanjungsari&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tepus&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wonosari&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-303928924814219487?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/303928924814219487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/dimana-gunungkidul_24.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/303928924814219487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/303928924814219487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/dimana-gunungkidul_24.html' title='Dimana Gunungkidul?'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-8201962541402978644</id><published>2009-03-24T19:01:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T19:03:44.435-07:00</updated><title type='text'>Apakah Nauropati itu?</title><content type='html'>&lt;h2&gt;Menekuni Naturopati untuk Dunia Kedokteran&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naturopati, masih menjadi ilmu pengobatan yang belum banyak dikenal di Indonesia. Bahkan sempat dipandang sinis oleh dokter-dokter yang belum mengenalnya. dr Amarullah Hasanuddin Siregar menjadi ahli naturopati dan menjadi satu-satunya dokter yang menerapkan cara pengobatan itu. Naturopati sesuai dengan asal katanya, nature [alami] dan path [lintasan] diartikan sebagai suatu cara pengobatan dengan cara memperbaiki jalan alami tubuh. &lt;p&gt;Sebenarnya, di luar negeri, cara pengobatan ini sudah lama dikenal. Naturopati muncul seiring dengan timbulnya masalah pada cara penanganan penyakit pada ilmu kedokteran lama. Rene Dubos, seorang Profesor Rockfeler University, mengatakan bahwa masyarakat Amerika Serikat tak akan lebih sehat dengan mengonsumsi obatobatan, bahkan akan mati lebih muda dibanding orangtua meraka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dr Amarullah, secara kebetulan mengenal naturopati saat studi di Inggris untuk spesialis jantung. Di akhir masa studinya, ia ikut praktek di klinik dan menangani beberapa pasien. Ternyata banyak pasien yang meminta saran untuk ditunjukkan naturopat [ahli naturopati] mana yang cocok untuknya, setelah pengobatan selesai. Mendapat petanyaan itu ia marah, karena masih ada arogansi sebagai dokter dan ketidaktahuannya. Dalam bayangannya, naturopat itu seperti terkun [dokter setengah dukun] yang dulu sempat heboh saat kasus Simon Gunawan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lama-kelamaan terbersit dalam pikirannya, “Masak negara maju seperti Inggris percaya kayak gituan? Itulah yang mendorong aku ke perpustakaan,” jelasnya. Di perpustakaan itu, ia menemukan buku-buku tentang naturopati. Kenallah ia dengan ilmu kedokteran yang tugasnya memperbaiki jalan alami tubuh itu. Ia pun menyadari, sebagai spesialis jantung, ia tak bisa menyelesaikan masalah jantung secara tuntas karena tak mengena pada sumbernya. Pasien jantung biasanya diberi obat yang macam-macam untuk mencegah serangan jantung. Tetapi, obat-obatan itu justru menimbulkan masalah baru lagi. Sementara sumber masalah, jalan alami yang mengakibatkan penyakit jantung tidak terselesaikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketertarikannya pada naturopati, membuatnya ingin mendalami dari orang yang ahli. Kemudian, oleh salah satu dokter di tempatnya belajar, ia direkomendasikan untuk mendalami naturopati ke Amerika. “Di situlah aku semakin mendalami naturopati, dan semakin menyadari betapa besarnya Allah. Banyak kasus-kasus yang sudah mentok, tetapi bahan-bahan alami bisa membuatnya sehat kembali,” ujarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Belajar mendalami naturopati membawanya pada suatu kesimpulan bahwa sebenarnya cara naturopati itu cara hidup Rasulullah Saw. Ia bertekad untuk mempelajari bagaimana Rasulullah Saw dulu menerapkan perilaku hidup sehat. Kebetulan, ia juga dipertemukan dengan Islamic Medical Doctor, sebuah asosiasi dokter-okter muslim di Florida. Banyak kajian-kajian ilmiah tentang bagaimana cara hidup Rasulullah Saw yang diberikan kepadanya. Akhirnya, ia memilih naturopati dengan berbagai spesifikasi menjadi profesinya. Konsekuensinya, ia harus meninggalkan dokter anak dan spesialis jantung, yang menurut banyak orang, adalah ladang penghasilan yang besar. Karena itu ada yang menganggapnya gila, sudah mendapat posisi yang enak, malah ingin menjadi terkun. Tetapi, semua anggapan itu tak menyurutkan niatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/silaturahmi_1_ed7.jpg"&gt;&lt;img class="alignright size-full wp-image-653" style="border: 0pt none ; margin: 10px;" title="silaturahmi_1_ed7" src="http://alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/silaturahmi_1_ed7.jpg" alt="" width="300" height="429" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Dua tahun tak bergaji&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Setelah kembali, pulang ke Indonesia, ada kendala yang membuatnya selama dua tahun luntang-lantung dan tak mendapat gaji. dr Amarullah mengisahkan, dulu, sewaktu berangkat ke Inggris, ia sedang bertugas di Sumatera Utara. Sesuai dengan peraturannya, setelah selesai, ia harus kembali ke induknya itu. Namun demikian, setelah melapor ke Departemen Kesehatan, pejabat Dep-Kes bilang bahwa ilmu yang dikuasai tidak cocok jika harus ditempatkan di daerah. Menurut pejabat itu, posisi yang paling pas untuknya adalah di pusat, Jakarta. Berdasarkan prosedur yang berlaku, ia harus meminta surat “lolos butuh” dari Dinas Kesehatan Daerah Sumatera Utara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Surat “lolos butuh” sudah diperoleh, dan sudah resmi keluar dari Daerah Sumatera Utara. Ternyata, sampai di Jakarta masih menunggu penempatan. Ditawarkan ke litbang, tidak bisa, ke direktorat pelayanan medik dan pelayanan kesehatan masyarakat, juga tidak bisa. “Dua tahun lebih nggak menerima gaji. Gaji di daerah sudah distop, sementara di Jakarta masih belum ada penempatan. Sebenarnya pihak Dep-Kes sudah mengerti, tetapi masih bingung menempatkan di mana.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhirnya, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil. Tetapi, surat pengunduran dirinya tak diterima. Statusnya menjadi tidak jelas, pegawai negeri bukan, karena tak ada penempatan. Keluar dari pegawai negeri juga tidak, karena belum ada surat keputusan. Di tengah kebingungan posisinya, ia berinisiatif untuk mengurus ijin praktek. Ijin praktek pun juga sulit keluar. Ijin praktek bisa dikeluarkan jika ada rekomendasi dari induk spesialisnya. Padahal di Indonesia belum ada spesialis naturopati. Ijin praktek dokter jantung tidak diterimanya, “Kalau aku melayani anak-anak, berarti malpraktek dong.” Setelah dipertimbangkan, ijin praktek yang keluar adalah sebagai dokter umum. “Bodo amat, semua bisa ditangani. Yang penting aku bisa praktek,” kenangnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tekad dr Amarullah untuk terus menekuni naturopati membuahkan hasil. Ia akhirnya diminta menjadi konsultan, membantu pemerintah dalam pembuatan peraturan mengenai pengobatan tradisional dan pengobatan komplementer. Saat ini, ia diminta menyusun semacam guideline sebagai konsultan ahli untuk WHO dari Dep-Kes. “Aku bilang kepada direktur di Direktorat, sekarang bayaranku lebih mahal dibanding menjadi dokter pegawai negeri. Kalau dulu Ibu tinggal perintah, sekarang, Ibu harus meminta ke saya,” katanya sambil tersenyum. Ia ditawari kembali untuk mengurus posisinya sebagai pegawai negeri, tetapi tidak mau, karena sudah terlanjur menyukai profesi yang sekarang, bebas, tak ada yang mengikat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dr Amarullah sempat diberi wejangan dari mendiang ayahnya, kalau memang harus bekerja di luar negeri dan tidak kembali, ayahnya rela. Ia menjawab, “Ah, nggak Yah. Ayah sejak awal sudah mengingatkan, iman, ilmu, dan amal. Lebih baik, aku mengamalkan ini di negeri sendiri, meski secara materi kurang, tetapi kepuasan melayani terasa beda,” kenangnya. Melihat tekadnya itu, ayahnya mengatakan agar selalu bersabat. Perkataan ayahnya tidak salah, ilmu yang dikuasainya itu bisa disebarluaskan setelah diperbolehkan mengajar di perguruan tinggi oleh Dep-Kes. Direktur Pasca Sarjana Universitas Indonesia sudah memintanya, namun, Fakultas Kedokteran belum siap. Ia tidak gegabah menjadikan naturopati menjadi spesialis, meski sejak tahun 80-an sudah menjadi cabang spesialis di luar negeri. Paling tidak, saat ini sudah menjadi mata ajar para dokter.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Belajar sampai Madinah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ada kisah menarik saat dr Amarullah mendalami cara hidup Rasulullah Saw sebagai dasar dari naturopati. Pada tahun 2004, ia diberi kesempatan Allah untuk menunaikan ibadah haji, dan kebetulan ustad Syafiq sebagai pembimbingnya. Ia merasa nyaman dibimbing Ustad Syafiq. Terjadi banyak diskusi antara ia dengannya. Akhirnya Ustad Syafiq mengetahui minatnya. Waktu haji itu belum terjadi apa-apa, karena sibuk menjalankan rukun haji.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tahun berikutnya, ia melaksanakan umrah dan meminta kepada travel yang sama untuk dibimbing Ustad Syafiq lagi. Saat umrah itu tidak banyak kegiatan yang harus ia jalani. Ustad Syafiq mengajaknya ke suatu tempat. “Ke mana Ustad?” tanyanya. “Sudahlah ikut saja, akan saya tunjukan sesuatu kepada Anda,” jawab Ustad Syafiq. Ternyata, ia dibawa ke sebuah perpustakaan di Masjid Nabawi. Ustad Syafiq punya akses ke perpustakaan itu karena ia berstatus mahasiswa. Dari banyak deretan buku, diambilnya satu untuk ditunjukkan kepada dr Amarullah, dibaca dan diterjemahkannya. Ternyata buku itu tentang hidup Rasulullah Saw. Ustad Syafiq bilang bahwa Rasulullah Saw dulu kalau tidur begini. Ia terkejut, apa yang dipraktekkan Rasulullah Saw ternyata sama seperti teori sleep medicine, cara tidur yang banyak dianjurkan pakar kesehatan. Tidur seperti itu akan meningkatkan growth hormone yang berfungsi untuk merestorasi sel. Sejak saat itu ia bertekad, bagaimanapun ia harus mempelajari buku-buku itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Setiap tahun, aku berdoa untuk mendapat rezeki agar bisa umrah.” Tak seperti umrah pada umumnya, ia meminta satu minggu penuh berada di Madinah bersama ustad Syafiq untuk mempelajari buku-buku itu. Ada 40 buku tentang Rasulullah Saw, meski tak semuanya tentang perilaku sehat Rasulullah, tetapi perilaku ibadahnya juga sangat berguna buatnya. Ia juga membawa buku-buku untuk dicocokkan dengan buku-buku di perpustakaan itu. Ustad Syafiq juga menguasai ilmu hadits dan mahzab sehingga bisa diajak berdiskusi. Hubungan dengan Ustad Syafiq berlanjut sampai sekarang. “Terkadang aku memintanya untuk datang ke Indonesia, berdiskusi dengan teman-teman yang ada di sini.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dr Amarullah tertarik juga membuat buku tentang naturopati ini, tetapi karena kesibukannya, niat tersebut belum kesampaian sampai sekarang. Pernah juga ada yang menawari untuk menulis bukunya. Ada seseorang dari salah satu majalah di Jakarta yang tertarik membuatnya, sudah diskusi banyak dengannya, tetapi buku itu belum juga bisa terwujud. “Mungkin karena sama-sama sibuk.”&lt;/p&gt; Pembahasan tentang kesehatan dalam Islam yang hanya satu sisi ini, sangat luas. Ia memperkirakan, kalau sudah terwujud dalam buku, bisa ada tiga jilid buku. Bukan dari cara hidup Rasulullah Saw yang cocok dengan teori kesehatan sekarang, tetapi juga bagaimana cara ibadahnya juga bisa dijelaskan secara ilmu pengetahuan. “Sadarkah kita bahwa shalat kita yang seperti patok ayam itu tidak baik buat sendi-sendi? Sering yang kita lihat, hanya dari sisi spiritualnya saja. Padahal tuma’ninah itu pun secara kesehatan bisa dijelaskan manfaatnya.” Ia punya keinginan agar cara hidup sehat ala Rasulullah ini bisa diketahui banyak orang. Selain melalui pembuatan buku, ia juga berharap pada peran media untuk menyebarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber :http://alifmagz.com/wp/?p=591&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-8201962541402978644?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/8201962541402978644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/apakah-nauropati-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/8201962541402978644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/8201962541402978644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/apakah-nauropati-itu.html' title='Apakah Nauropati itu?'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-4827827979588115378</id><published>2009-03-19T21:10:00.000-07:00</published><updated>2009-03-19T21:25:50.511-07:00</updated><title type='text'>Cinta Sejatiku</title><content type='html'>&lt;span id="ctl00_ContentPlaceHolder1_lblNews"&gt;Aku tidak pernah mengenal cinta sejatiku dengan baik, tapi aku tahu cinta sejatiku ada dan menunggu aku selamanya dimanapun dia berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya jiwa kita satu tercipta, namun manakala terlahir di dunia jiwa kita menjadi belahan jiwa. Bila cinta sejati adalah belahan jiwa kita yang lain. maka cinta sejati itu ada dan merasakan apa yang kita rasakan juga. Dimanakah cinta sejati itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Gibran cinta mengarahkan manusia pada Allah, dan karena cinta pula Allah mempertemukan diri-Nya kepada manusia. Lantaran itu dalam pandangan Gibran cinta sesungguhnya adalah cinta atas nama Allah dan cinta kepada Allah itu sendiri, karena segala sesuatu adalah pantulan dan imanensi dari Sang Mahacinta. Cinta kepada yang lain selain Allah, tetapi atas nama dan di dasarkan pada Allah akan membawa manusia dan alam semesta kepada persekutuan dengan Allah. Hal ini terungkap jelas dalam tulisannya yang berjudul &lt;em&gt;Cinta Keindahan Kesunyian&lt;/em&gt;, (Yogyakarta, Bentang Budaya, 1999, hal. 72-74) &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;"Cinta membimbingku mendekati-Mu namun kemudian kegelisahan membawaku menjauhinya. Aku telah meninggalkan pembaringanku, cinta, karena takut pada hantu kelupaan yang bersembunyi di balik selimut kantuk. Bangun, bangun, cintaku, dan dengarkan aku. Aku mendengarkan-Mu, kekasihku! Aku mendengar panggilan-Mu dari dalam lautan dan merasakan kelembutan sayap-sayap-Mu. Aku telah menginggalkan pembaringanku dan berjalan di atas rerumputan. Embun malam membasahi kaki dan keliman pakaianku, di sini aku berdiri di bawah bunga-bunga pohon Almond, memperhatikan ruh-Mu." &lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Gibran tidak hanya menekankan cinta sebagai dasar hubungan antara manusia dengan Allah, tetapi lebih jauh dari itu melalui dan dalam cinta manusia diarahkan, dituntun sampai pada tahap akhirnya hidup dalam persekutuan dengan Allah. Cinta melampaui keterbatasan manusia, menembus ruang fisik dan berjumpa dengan Allah. Dengan demikian cinta ditempatkan Gibran sebagai bentuk hubungan terpenting dan tertinggi. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Agar sampai pada persekutuan dengan Allah melalui Cinta, bagi Gibran cinta itu harus berangkat dari peran manusia yang kongkret dalam kodrat kemanusiaan dan potensi-potensinya yang lebih jauh dan luas. Dalam Triloginya &lt;em&gt;Sang Nabi, Taman Sang Nabi, dan Suara Sang Guru&lt;/em&gt; (Yogyakarta, Pustaka Sastra, 2004, hal 212) dengan jelas Gibran menggambarkan tentang hal tersebut.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt; "Kalian orang-orang beriman yang dapat menemukan adanya suatu dasar untuk kemajuan seluruh umat manusia dalam sifat baik manusia, dan bahwa dalam diri manusia terdapat tangga kesempurnaan yang menuju Roh Kudus? Jika kalian dapat berlaku demikian, maka kalian akan seperti bunga bakung di taman kebenaran yang abadi harumnya baik tersimpan dihirup manusia atau tersapu oleh angin lalu."&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Hal senada dikatakan Gibran dalam&lt;em&gt;Semua Karena Cinta&lt;/em&gt; (Yogyakarta, Narasi, 2005, hal. 54)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;"Hidup tanpa cinta bagaikan sebatang pohon yang kokoh berdiri namun dahannya kering, tanpa dihiasi buah ataupun bunga."&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Sejalan dengan pandangan mistik agama samawi, bagi Gibran persatuan Allah dan manusia tidak hanya terjadi dalam cinta yang meluap-luap dan berkobar-kobar kepada Allah dalam ekstase. Gibran lebih memandang pengalaman mistik dari aspek etika. Pengalaman mistik dalam pandangan Gibran tidak berarti melarikan diri dari tugas dan tanggungjawab hidup di dunia ini, dengan menyingkir untuk masuk dalam ekstase kebahagiaan untuk diri sendiri saja, membelakangi dunia serta melupakan segala penderitaan hidup diri sendiri maupun orang lain. Baginya mistisisme yang hanya mementingkan diri sendiri adalah egoisme &lt;em&gt;alias&lt;/em&gt; pengingkaran terhadap kodrat manusia. Gibran menekankan bahwa relasi cinta antara Allah dan manusia baru akan menjadi nyata bila melimpah ke dunia dalam wujud cinta kepada sesama. Ini harus terjadi bukan dengan kata-kata, melainkan dalam belas kasihan dan kurban diri. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Wujud tertinggi dari cinta bagi Gibran adalah terlibat atau melibatkan diri dalam dunia; dan bentuk keterlibatan itu dimaknai oleh Gibran dengan kerja. Kerja atau pekerjaan adalah satu-satunya wujud relasi manusia dengan Allah dalam dunia, sebagai sebuah bentuk kurban diri yang kongkret. Kerja yang dimaksudkan Gibran tidak hanya melibatkan daya fisik tetapi juga pikiran dan perasaan manusia. Melalui kerja manusia dapat mewujudkan dirinya sebagai individu. Dengan bekerja manusia dapat melebur dalam persatuan dengan sesama, dan dengan bekerja pula manusia dapat menjumpai Allah di dalam alam semesta. Hal ini dilukiskan Gibran dalam Triloginya (hal.28-29)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;"...aku berkata bahwa hidup memang kegelapan, jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat-keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan. Dan segala pengetahuan adalah hampa, jika tidak diikuti pekerjaan. Dan setiap pekerjaan akan sia-sia, jika tidak disertai cinta. Bekerja dengan rasa cinta, berarti kalian sedang menyatukan diri dengan diri kalian sendiri, dengan diri-diri orang lain - dan kepada Allah."&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Gibran meyakini bahwa kerja merupakan dimensi mendasar hidup manusia di dunia. Latar belakang pemikirannya adalah karena manusia ialah citra Allah, juga karena perintah yang diterima dari Penciptanya untuk menaklukkan dan menguasai dunia. Bagi Gibran semua perkerjaan manusia harus berorientasi pada cinta. Karena kerja yang berlandaskan pada cinta, maka melalui kerja atau pekerjaan manusia tidak hanya mengubah kodrat, tetapi juga mewujudkan dirinya sendiri dan membangun masyarakat keluarga dan bangsa.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bagi Gibran cinta tidak punya makna selain mewujudkan maknanya sendiri. Cinta tidak memberikan apa-apa pada manusia, kecuali keseluruhan dirinya, dan cintapun tidak mengambil apa-apa dari manusia, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tidak memiliki atau dimiliki, karena telah cukup untuk cinta. Namun jika manusia mencintai dengan hasrat dan keinginan, maka manusia harus meluluhkan diri, mengalir di dalamnya, dan terlibat. Hanya saja dalam kehidupan manusia cinta yang sempurna tidak dapat ditemukan. Kehidupan adalah tabir kegelapan, berkerudung dan bercadar. Melalui dan dalam cinta manusia senantiasa digiatkan untuk melakukan pencarian makna kehidupan dengan mengamalkan cinta kasih, tetapi kesempurnaan cinta hanya ada dan dimiliki oleh Allah. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;"Apabila kalian mencinta, janganlah berkata: "Allah ada di dalam hatiku" tetapi sebaliknya kalian merasa: "Aku berada di dalam Allah" Dan jangan kalian mengira bahwa kalian dapat menentukan arah cinta, karena cinta apabila telah menjatuhkan pilihan pada kalian, dialah yang akan menentukan perjalanan hidup cinta."&lt;/em&gt; (Trilogi hal.14)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Dalam kehidupan, manusia tidak mampu mengukur kualitas cinta, sebab kepenuhan cinta sesungguhnya adalah Allah itu sendiri. Allah adalah awal dan akhir kehidupan, Allah adalah cinta, maka hanya dalam dan melalui cinta manusia berjalan dan mengarahkan dirinya kepada Allah.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-4827827979588115378?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/4827827979588115378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/cinta-sejatiku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/4827827979588115378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/4827827979588115378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/cinta-sejatiku.html' title='Cinta Sejatiku'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-4810632916323156263</id><published>2009-03-15T22:52:00.001-07:00</published><updated>2009-03-15T22:53:18.200-07:00</updated><title type='text'>Menabung Efektif</title><content type='html'>Tips Menabung Efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Buku "Cashflow for Woman"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menabunglah di awal, bukan di akhir. Jangan menabung dari uang sisa bulanan, tapi langsung sisihkan untuk ditabung begitu mendapatkan uang, sisanya baru dipakai untuk yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar sedikit asal konsisten. Enggak usah menunggu berpenghasilan besar baru mulai menabung, karena semakin banyak penghasilan akan semakin besar juga pengeluarannya. Berapapun penghasilan Anda, sebaiknya sisihkan setidaknya 10% dari penghasilan sebagai tabungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih awal, lebih baik atau jangan menunda-nunda untuk menabung, karena semakin awal berinvestasi, semakin besar juga hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan dengan baik di mana Anda menyimpan tabungan. Sebaiknya Anda tidak hanya menyimpan dalam rekening tabungan atau deposito saja, tetapi sebaiknya investasikan juga dana nganggur Anda untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-4810632916323156263?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/4810632916323156263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/menabung-efektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/4810632916323156263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/4810632916323156263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/menabung-efektif.html' title='Menabung Efektif'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-8364826182869848751</id><published>2009-03-15T22:45:00.000-07:00</published><updated>2009-03-15T22:50:17.098-07:00</updated><title type='text'>Keuangan Personal</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keuangan Personal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Keuangan personal sangat berkaitan erat dengan kebiasaan Anda bertingkah laku berkenaan dengan uang. Pengetahuan hampir sebagian besar dari kita, mengenai keuangan personal, kita dapati dari melihat dan mengamati orang tua, teman, atau malah tetangga kita. Bila orang tua kita termasuk yang secara berkala menabung maka akan besar kemungkinan kita juga demikian. Tapi, bila orang tua kita termasuk yang sibuk berbelanja (big spender) maka akan besar kemungkinan juga kita akan berprilaku sama. Semua informasi maupun pengetahuan keuangan yang kita dapat dari mengamati prilaku orang tua kita tidaklah cukup dan lengkap, Sehingga perlunya pengetahuan dasar keuangan personal bagi anak-anak. Paling tidak, Anda sebagai orang tua yang bertanggung jawab untuk dapat memperkenalkan pengetahuan keuangan personal kepada anak-anak Anda. menurut hemat kami ada beberapa hal yang sebaiknya Anda ajarkan kepada anak-anak Anda seputar keuangan personal.&lt;br /&gt;          Dalam menganggarkan keuangan keluarga sebaiknya Anda turut menyertakan anak-anak Anda di dalamnya. Sehingga mereka dapat melihat pola belanja serta prioritas keuangan keluarga mereka. Hal penting yang harus Anda pertimbangkan adalah usia anak Anda. Berapa besar yang perlu mereka ketahui karena jangan sampai hal ini malah mendjadi bumerang di kemudian hari. Dengan mengikutsertakan anak-anak Anda dalam menganggarkan keuangan keluarga maka mereka jadi terlibat dan dapat belajar dari pola anggaran yang Anda miliki. Karena sekarang ini pola konsumtif sudah menjadi kebiasaan penduduk perkotaan khususnya. Anda sebagai orang tua sebaiknya juga memberikan contoh yang baik. Karena anak-anak Anda akan melihat orang tuanya dalam urusan keuangan.&lt;br /&gt;            Memberikan uang jajan yang sesuai adalah salah satu hal terpenting dalam mengajarkan anak Anda tentang pentingnya nilai uang. Dalam menentukan besarnya uang saku, pertimbangkan umur sang anak dan tentunya mencukupi untuk hal-hal seperti makan siang atau transportasi. Hal perlu ditekankan di sini bahwa dengan uang saku yang diberikan harus dapat mencukupi berbagai kebutuhan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga hal penting yang berkaitan dengan uang saku, yaitu:&lt;br /&gt;1. Keuntungan dari bekerja&lt;br /&gt;2. Pentingnya memiliki anggaran&lt;br /&gt;3. Konsekuensi-konsekuensi akibat dari keputusan finansial yang dipilih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Anak-anak akan belajar keuntungan dari bekerja dengan mendapatkan hadiah berupa uang atau berupa barang dari hasil jerih payah mereka. Mereka belajar pentingnya sebuah perencanaan anggaran dengan membuat laporan anggaran sederhana setiap mereka memperoleh pemasukan atau uang jajan maupun melakukan pengeluaran. Mereka juga bisa belajar mengenai konsekuensi dari keputusan yang mereka ambil dari penyisihan uang jajan setiap bulan untuk membeli sesuatu yang mereka sangat idamkan atau memutuskan sesuatu yang berakibat kurang baik bagi mereka.&lt;br /&gt;        Salah satu tujuan jangka panjang dalam mengajarkan anak Anda berkenaan dengan keuangan personal adalah keuntungan dari menabung atau menyisihkan uang dan digunakan untuk kebutuhan masa datang. Kedua hal di atas, yaitu anggaran dan pemasukan dari uang saku bulanan tak lengkap tanpa adanya tabungan.&lt;br /&gt;          Banyak anak-anak yang tidak menangkap kaitan antara ketiga hal yang telah kita bicarakan. Oleh karena itu, menurut hemat kami bukan hanya Anda memberikan uang saku setiap bulan, tetapi juga memberikan sebuah cara atau pola perencanaan dalam menggunakan uang dari uang saku bulanannya secara konstruktif. Bila tidak maka mereka hanya akan menganggap bahwa uang hanyalah sebuah mainan yang mereka bisa mainkan dan gunakan.&lt;br /&gt;Sebagai contoh, bila anak Anda ingin dibelikan sepeda. Maka Anda dapat memberikan palajaran dalam hal ini. Misalkan harga sepedanya adalah Rp.250 ribu dan dengan uang saku setiap bulan Rp.100 ribu maka berikan gambaran bahwa mereka bisa mencoba untuk menyisihkan Rp.25 ribu setiap bulan dan setelah 10 bulan akan terkumpul uang sejumlah harga dari sepeda yang diinginkan. Bila terjadi di mana harga dari sepeda naik, maka Anda sebagai orang tua dapat membantunya dengan menambahkan kekurangannya.&lt;br /&gt;           Dengan mengajarkan pola seperti ini maka secara langsung memberikan pandangan kepada mereka bahwa bila mereka menginginkan sesuatu yang besar di depan maka mereka harus memilih untuk menunda penggunaan uang yang dihasilkan dan menyisihkannya serta menginvestasikannya untuk kebutuhan di depan tersebut atau melupakan tujuan masa depannya. Dengan begitu mereka akan merasa memiliki prioritas dan dengan keputusan yang diambil akan memberikan konsekeunsi yang berbeda-beda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-8364826182869848751?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/8364826182869848751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/keuangan-personal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/8364826182869848751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/8364826182869848751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/keuangan-personal.html' title='Keuangan Personal'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-7497007366092042397</id><published>2009-03-15T22:14:00.000-07:00</published><updated>2009-03-19T21:09:07.902-07:00</updated><title type='text'>Definisi Matrix</title><content type='html'>&lt;h1 id="firstHeading" class="firstHeading"&gt;Matriks (matematika)&lt;/h1&gt;          &lt;b&gt;Matriks&lt;/b&gt; adalah suatu kumpulan besaran (variabel dan konstanta) yang dapat dirujuk melalui indeknya, yang menyatakan posisinya dalam representasi umum yang digunakan, yaitu sebuah tabel persegipanjang। Matriks merupakan suatu cara visualisasi variabel yang merupakan kumpulan dari angka-angka atau variabel lain, misalnya vektor. Dengan representasi matriks, perhitungan dapat dilakukan dengan lebih terstruktur. Pemanfaatannya misalnya dalam menjelaskan persamaan linier, transformasi koordinat, dan lainnya. Matriks seperti halnya variabel biasa dapat dimanipulasi, seperti dikalikan, dijumlah, dikurangkan dan didekomposisikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Owner/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-7497007366092042397?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/7497007366092042397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/matrix.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/7497007366092042397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/7497007366092042397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/matrix.html' title='Definisi Matrix'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-7965695114106212706</id><published>2009-03-10T03:51:00.001-07:00</published><updated>2009-03-10T03:52:00.524-07:00</updated><title type='text'>Antara Matematika dan Sastra</title><content type='html'>Maaf Kita Berbeda (Antara Matematika dan Sastra)&lt;br /&gt;=================&lt;br /&gt;By Hassan Binjidi&lt;br /&gt;=======&lt;br /&gt;Surabaya, 8 mei 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf kita memang berbeda&lt;br /&gt;kau bilang puisimu bermakna&lt;br /&gt;kubilang itu hanya coretan rasa&lt;br /&gt;dan kaupun tak terima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maaf kita memang berbeda&lt;br /&gt;Kujabarkan rumus trigonometri&lt;br /&gt;kau cuek, lalu pergi&lt;br /&gt;dan akupun sakit hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin aku tulis jurnal&lt;br /&gt;lalu kukirim ke "Jurnal Matematika Nasional"&lt;br /&gt;Kusumbangkan ilmu untuk dunia internasional&lt;br /&gt;Aku kok disuruh bayar mahal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari ini kau tulis resensi&lt;br /&gt;lalu kau kirim ke koran pagi&lt;br /&gt;lalu dapat komisi&lt;br /&gt;dan akupun merasa iri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepada Chairil Anwar Engkau memuja&lt;br /&gt;Melebihi Pahlawan yang terbaring Antara Karawang-Bekasi&lt;br /&gt;Muhammad Iqbal, juga Kau jadikan idola&lt;br /&gt;Laksana Javid Namah, katamu ziarahmu abadi&lt;br /&gt;dan bagiku ini Basa Basi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kutunjukkan "Deret Fibonacci"&lt;br /&gt;Kulihat dahimu berkerut, Bingung&lt;br /&gt;lalu kujelas tetang lambang "phi"&lt;br /&gt;dan kaitannya dengan "Keseimbangan Agung"&lt;br /&gt;Dan kau Tetap Tak mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ternyata kita memang berbeda&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-7965695114106212706?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/7965695114106212706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/antara-matematika-dan-sastra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/7965695114106212706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/7965695114106212706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/antara-matematika-dan-sastra.html' title='Antara Matematika dan Sastra'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-8782771528977120464</id><published>2009-03-10T03:49:00.000-07:00</published><updated>2009-04-09T00:06:31.744-07:00</updated><title type='text'>Math In Love</title><content type='html'>Math in Love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintaku bagai sebuah fungsi&lt;br /&gt;Yang melaju tak terbendung secara eksponensial&lt;br /&gt;Ingin kukuadratkan secara sempurna&lt;br /&gt;Menjadi grafik fungsi cinta abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintaku tak terdiffrensialkan secara parsial apalagi secara implisit&lt;br /&gt;Tetapi terintegralkan secara rasional&lt;br /&gt;Aku tak ingin lagi berjalan seperti aritmatik&lt;br /&gt;Tetapi ingin kuberlari seperti geometrik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku terus bergejolak, terasa ganjil, dan sulit kuregresikan&lt;br /&gt;Analisis secara real pun tak banyak membantu&lt;br /&gt;Alangkah kompleksnya mencari titik kestabilan sistem cinta ini&lt;br /&gt;Oh, hidupku menjadi tak terdefinisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laju perubahan cintaku terhadap waktu sungguh cepat&lt;br /&gt;Tetapi tak beraturan seperti kurva sinus yang bergejolak&lt;br /&gt;Kalkulus pun menangis, hatinya menjerit menatapku&lt;br /&gt;Karena merasa sosoknya tak berguna lagi di himpunan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin rasanya ku transformasikan cinta ini&lt;br /&gt;Dan mengkonversinya menjadi bilangan cinta&lt;br /&gt;Sehingga kuperoleh titik singgung antara hatiku dan hatinya&lt;br /&gt;Dan menggapai kehidupan yang terdefinisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limit perbedaan antara kita, tak menjadi kendala bagiku&lt;br /&gt;Keyakinanku sudah mencapai titik maksimum&lt;br /&gt;Mari kita substitusikan dua fungsi cinta ini&lt;br /&gt;Menjadi satu persamaan fungsi cinta abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Differensial Cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku bersua dengan eksponen jiwamu,&lt;br /&gt;sinus kosinus hatiku bergetar,&lt;br /&gt;membelah rasa diagonal-diagonal ruang hatiku,&lt;br /&gt;bersentuhan dengan diagonal-diagonal bidang hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku adalah persamaan dengan akar-akar x1 dan x2,&lt;br /&gt;maka kaulah persamaan dengan akar-akar 2×1 dan 2×2.&lt;br /&gt;Aku ini binatang jalang,&lt;br /&gt;dari himpunan yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaulah integrasi belahan jiwaku,&lt;br /&gt;kaulah kodomain fungsi hatiku.&lt;br /&gt;Kemanakah harus kucari modulus vektor hatimu?&lt;br /&gt;Dengan besaran apakah harus kunyatakan cintaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus dengan metode apakah kubuktikan cintaku?&lt;br /&gt;Metode kontradiksi?&lt;br /&gt;Ataukah pembuktian langsung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat variabel dimatamu,&lt;br /&gt;matamu bagaikan elipsoid,&lt;br /&gt;hidungmu bagaikan asimtot hiperbola,&lt;br /&gt;dan bibirmu bagaikan grafik kosinus jika kau tersenyum padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modus ponen?&lt;br /&gt;Modus tolen?&lt;br /&gt;Dengan modus apakah kusingkap logika hatimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beribu-ribu matriks n x n kutempuh,&lt;br /&gt;harus bagaimanakah kuungkap adjointku padamu?&lt;br /&gt;Kujalani tiap geometri yang takhingga banyaknya,&lt;br /&gt;dan tiap barisan aritmatika yang tak terhitung,&lt;br /&gt;sampai akhirnya kutemui determinan matriks hatimu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phisic in Love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Archimedes dan Newton tak akan mengerti&lt;br /&gt;Medan magnet yang berinduksi di antara kita&lt;br /&gt;Einstein dan Edison tak sanggup merumuskan E = mc2&lt;br /&gt;Ah tak sebanding dengan momen cintaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali bayangmu jatuh tepat di fokus hatiku&lt;br /&gt;Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa maksimum&lt;br /&gt;Bagai tetes minyak milikan jatuh di ruang hampa&lt;br /&gt;Cintaku lebih besar dari bilangan Avogadro…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau jarak kita bagai matahari dan Pluto saat aphelium&lt;br /&gt;Amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan hatiku&lt;br /&gt;Seindah gerak harmonik sempurna tanpa gaya pemulih&lt;br /&gt;Bagai kopel gaya dengan kecepatan angular yang tak terbatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi mekanik cintaku tak terbendung oleh friksi&lt;br /&gt;Energi potensial cintaku tak terpengaruh oleh tetapan gaya&lt;br /&gt;Energi kinetik cintaku&lt;br /&gt;Bahkan hukum kekekalan energi tak dapat menandingi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum kekekalan di antara kita&lt;br /&gt;Lihat hukum cinta kita&lt;br /&gt;Momen cintaku tegak lurus dengan momen cintamu&lt;br /&gt;Menjadikan cinta kita sebagai titik ekuilibrium yang sempurna&lt;br /&gt;Dengan inersia tak terhingga Takkan tergoyahkan impuls atau momentum gaya Inilah resultan momentum cinta kita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-8782771528977120464?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/8782771528977120464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/math-in-love.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/8782771528977120464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/8782771528977120464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/math-in-love.html' title='Math In Love'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-3976852050384714242</id><published>2009-03-10T03:44:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T03:48:26.776-07:00</updated><title type='text'>Cahaya Hati</title><content type='html'>Mrican, 04.47 WIB/30 Oktober 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya Hati&lt;br /&gt;Karya : Ari Muhammad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta antara kita&lt;br /&gt;Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata&lt;br /&gt;Bersatu larut dalam air&lt;br /&gt;Mengalir sepanjang sungai keabadian&lt;br /&gt;Meresap di tiap butir pasir&lt;br /&gt;Memantulkan indah cahaya bintang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa perasaan selalu dipermainkan&lt;br /&gt;Meninggalkan luka dalam hati&lt;br /&gt;Kerinduan datang mengiringi sinar Rembulan&lt;br /&gt;Menyinari indah sepasang kupu-kupu&lt;br /&gt;Kau dan Aku adalah satu&lt;br /&gt;Dua jiwa saling menyatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi ini tercipta hanyalah untukmu&lt;br /&gt;Dalam kehidupan ini atau selanjutnya&lt;br /&gt;Kuharap kita selalu bersama bahagia selamanya&lt;br /&gt;Aku mencintaimu karena Allah&lt;br /&gt;Semoga Allah mencintaimu&lt;br /&gt;Karena mencintaiku hanya karena Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengarungi samudera kehidupan&lt;br /&gt;Takhlukkan gelombang badai, karang terjal, guung es sekalipun&lt;br /&gt;Melintasi siang dan malam&lt;br /&gt;Menembus lorong waktu kegelapan&lt;br /&gt;Untuk sebuah mutiara,&lt;br /&gt;Menggapai seberkas cahaya kehidupan&lt;br /&gt;Yang menyinari indah dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------;;-----------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-3976852050384714242?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/3976852050384714242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/cahaya-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/3976852050384714242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/3976852050384714242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/cahaya-hati.html' title='Cahaya Hati'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-64486978046353810</id><published>2009-03-10T03:37:00.001-07:00</published><updated>2009-03-10T03:37:55.208-07:00</updated><title type='text'>Wawasan Sosial</title><content type='html'>&lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="center"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;WAWASAN SOSIAL&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Islam memandang bahwa setiap manusia memiliki kedudukan, hak dan kewajiban dihadapan Allah,&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; sesama manusia maupun alam. Hal ini karena manusia memiliki pandangan dasar yang definitif tentang kemanusiaan. Manusia, menurut Islam, dicipta dari bahan yang sama, dalam fitrah yang sama, yakni Tauhid, dan memiliki tugas – tugas yang secara hakiki sama pula, yakni beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi. Karena itu, Islam tidak memandang penting perbedaan status kemanusiaan yang didassarkan pada batasan etnis, geografis atau kelas sosial. Dalam pandangan Islam, harkat kemanusiaan yang tertinggi dapat dicapai oleh manusia karena ketaqwaannya, atau sejauh mana manusia menyikapi serta memilih keyakinan dan sistem nilai kehidupannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Dengan asumsi demikian, maka pandangan Islam tentang hubungan antara individu dan masyarakat serta pola – pola interaksi yang terjadi di dalamnya berbeda dengan berbagai pandangan ideologis dan sosiologis yang berkembang dewasa ini memandang, bahwa hubungan antara individu dan masyarakat saling berbeda, bertentangan, bahkan eksploitatif. Sedangkan Islam memandang, bahwa hubungan antara individu dan masyarakat adalah koheren, kohesif dan komplementatif. Dalam pengertian Islam, individu maupun masyarakat telah terikat dalam sistem nilai yang sama, memiliki orientasi dan misi yang sama serta pola kerja yang sama pula. Karena itulah Islam mengajarkan, bahwa sesama muslim adalah saudara.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"&gt;&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Kehadiran seorang muslim bagi muslim lainnya adalah rahmat, bukan bencana.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Menurut Islam, seluruh kenyataan sosial harus terangkum dalam totalitas keadaran &lt;i&gt;bahwa tidak ada Tuhan atau karakteristik pengikat apapun selain Allah&lt;/i&gt;.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"&gt;&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Hal ini karena tujuan akhir dari proses sosial adalah keridhaan Allah SWT atas manusia itu sendiri. Maka cara pengelolaan dan cara hidup yang benar dan sesuai dengan fitrah kehidupan  kemanusiaan  untuk mencapai tujuan tersebut, pada dasarnya adalah pengembangan fungsi – fungsi risalah yang dibakukan dalam Syari’ah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Salah satu bagian penting dari ajaran Islam tentang sistem sosial adalah mengenai model kedaulatan dan sistem kekuasaan. Berbeda dengan konsep demokrasi yang memandang bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat, Islam memandang kedaulatan di tangan Tuhan,&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"&gt;&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; karena Tuhanlah sumber kebenaran dan sumber dari segala sumber hukum.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"&gt;&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Islam menolak gagasan yang menyatakan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, pada saat yang sama Islam juga menolak konsep kedaulatan teokratis yang selama ini dipahami.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Islam mengembangkan konsep “pendelegasian kedaulatan” yang khas. Pendelegasian kedaulatan, secara teoretik, merupakan transformasi kedaulatan dari yang sesungguhnya memang berhak atas kedaulatan itu kepada pihak – pihak yang yang dipandang representatif secara tekstual (sesuai dengan ajaran) untuk menerima kedaulatan itu secara &lt;i&gt;atas nama&lt;/i&gt;, agar dapat dilaksanakan dalam realitas kehidupan. Dalam Islam yang memegang pendelegasiaan adalah pewaris nabi, yakni ulama, yang kriterianya ditetapkan baik dalam al – Qur’an maupun as-Sunnah. Oleh karena itu pemegang otoritas kekuasaan dalam Islam bukanlah abdi dalam masyarakat atau abdi  negara, melainkan para pewaris nabi (&lt;i&gt;waratsatul anbiya&lt;/i&gt;), yang disebut khalifah atau Imam. Karena itu peran yang penting, disamping amanah kekuasaan tersebut, khalifah atau imam berperan pula sbagai pendidik dan “penggembala” ummat, baik dalam urusan ibadah, ilmu pengetahuan maupun aspek kehiupan lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Konsekuensi penting dari konsep sosial ini, secara teoritik Islam tidak mengenal oposisi, tetapi tetap memberi jaminan kebebasan kepada golongan – golongan yang memiliki keyakinan lain dalam menjalankan ibadahnya. Islam juga tidak mengenal teori pembagian kekuasaan, tetapi menerapkan pendelegasian kekuasaan. Lebih jauh lagi, konsep dasar Islam dikembangkan dengan dan dari prinsip – prinsip keadilan,&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"&gt;&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;syuro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote7anc" href="#sdfootnote7sym"&gt;&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;ukhuwwah&lt;/i&gt;,&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"&gt;&lt;sup&gt;8&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; yang pada gilirannya mengantarkan pada &lt;i&gt;ummatan wahidah&lt;/i&gt;, yang tunduk (berserah  diri) kepada ketentuan Allah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Di dalam sistem sosial demikian, perbedaan golongan bukanlah kendala sosial yang menghambat perkembangan masyarakat, melainkan justru mendorong kehidupan ke arah kesempurnaan. Sebab adanya perbedaan golongan dalam  masyarakat tidak akan menghalangi sistem ini untuk tetap tegak dengan berprinsip pada hukum yang adil sekaligus benar. Oleh karena itulah, maka masyarakat Islam disebut juga &lt;i&gt;Ummah.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Istilah Ummah secara etimologis berarti ibu dan induk, tetapi secara sosiologis juga dapat berarti sebagai sistem sosial, sistem nilai dan etika dari masyarakat secara mondial. Oleh karena itu bila istilah Ummah diterapkan untuk umat Islam, maka secara teoritik, bukan saja menunjuk pada eksistensi masyarakat muslim dengan dasar keyakinan individual dan pola peribadatan yang sama, akan tetapi juga mencakup “sistem dan nilai’ yang diberlakukan dalam masyarakat serta adanya penerapan konsep kedaulatan yang khas.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Konsep yang demikian akan amat membedakannya dengan konsep negara dalam pengertian sekular, yang menjadikan kesamaan etnis atau geografis sebagai ikatan dasarnya. Perbedaan mendasar ini tentu saja membawa implikasi pada berbagai segi kehidupan dan tata sosialnya. Dalam konsep Ummah, kecuali berorientasi pada Tauhid, umat Islam secara penuh juga “menerima” otoritas hukum yang bersumber langsung dari Allah SWT dan Rasul-Nya, yakni al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal ini berarti bahwa hukum mendahului masyarakat, dan tidak pernah sebaliknya. Sedangkan dalam konsep negara, eksistensi hukum mengikuti perkembangan masyarakatnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Sebagai konsekuensi lebih lanjut adalah, bahwa masyarakat yang berada dibawah konsepsi Negara, bekerja dan berperilaku serta memiliki etika yang tidak kokoh, bahkan tidak memiliki visi kedepan yang jelas. Karena hukum mengikuti perkembangan masyarakatnya, maka perbedaan – perbedaan yang terjadi dalam masyarakat, bukan saja membawa perubahan pada norma – norma sosial dan hukum, akan tetapi juga mendatangkan konflik sosial yang serius dan tidak terkendali. Banyaknya dekadensi moral, penindasan, keculasan, lahirnya masyarakat yang anarkhis serta kehampaan hidup manusia, karena perubahan hukum dan nilai – nilai kehidupan terus menerus.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Dalam konsep ummah, peranan al-Qur’an dan as-Sunnah tidak saja mengontrol setiap pelanggaran yang terjadi dalam masyarakat, tetapi juga membimbing, mengarahkan dan memerintahkan agar masyarakat Islam mampu melakukan gerakan – gerakan yang kontinu kearah kesempurnaan dan menuju masa depan yang ideal. Karena itu tugas untuk melakukan perbaikan, amar ma’ruf nahi munkar, bukan saja dibebankan pada khalifah atau imam, tetapi menjadi kewajiban bersama umat Islam, baik bersama individu maupun kolektif.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Pada sisi lain, Islam memandang bahwa pemilik yang sesungguhnya dari alam semesta dan limpahan kekayaan yang terdapat didalamnya adalah Allah. Oleh karena itu dalam ekonomi, Islam menolak suatu pandangaan pemilikan dan penguasaaan kekayaan oleh manusia secara mutlak. Harta menurut Islam, adalah suatu “pinjaman” dari Allah,yang dalam penggunaannya harus berdasarkan hukum – hukum yang ditetapkan oleh Allah, dan digunakan untuk beribadah kepada-Nya Karen itu disamping Islam  mengakui adanya “hak milik, Islam juga mengatur pola distribusinya. Di dalam harta orang kaya, menurut Islam, terdapat hak bagi fakir miskin. Dengan demikian interaksi ekonomi dalam Islam, tidak akan mengarah pada akumulasi kekayaan di satu pihak, yang mengakibatkan penderitaan bagi pihak lain.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"&gt;&lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Karena itulah Islam menolak riba, mekanisme ekonomi yang menghisap serta menindas,&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote10anc" href="#sdfootnote10sym"&gt;&lt;sup&gt;10&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; pada saat yang sama Islam mendorong terciptanya kerja - kerja produktif bagi seluruh masyarakat.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote11anc" href="#sdfootnote11sym"&gt;&lt;sup&gt;11&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Denga sejumlah kreteria yang deemikian itulah, masyarakat Islam disebut sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote12anc" href="#sdfootnote12sym"&gt;&lt;sup&gt;12&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Karena itu adanya sistem sosial yang berbeda, apalagi bertentangan dengan Islam, akan menjadi beleenggu bagi umat manusia dalam mencapai kesempurnaan hidupnya,&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote13anc" href="#sdfootnote13sym"&gt;&lt;sup&gt;13&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; bahkan akan menghancurkan diri mereka sendiri. Dengan memperhatikan misi dan tujuan yang mendasar bahwa Islam adalah ajaran yang menjadi rahmat bagi seluruh alam,&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote14anc" href="#sdfootnote14sym"&gt;&lt;sup&gt;14&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; maka umat manusia harus dibebaskan dari sistem sosial dan setiap belenggu yang menghalanginya kepada sistem sosial tauhidi. Dalam rangka tujuan tersebut, Islam memiliki doktrin dan konsep yang disebut Jihad.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.59in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div id="sdfootnote1"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt;  QS Al Hujurat / 49 : 13&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote2"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc"&gt;2&lt;/a&gt;  QS Al Hujurat / 49 : 10&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote3"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc"&gt;3&lt;/a&gt;  QS Al Ikhlas / 112 : 1-4&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote4"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc"&gt;4&lt;/a&gt;  QS Al Baqarah / 2 : 20&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote5"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc"&gt;5&lt;/a&gt;  QS Al – An’am / 6 : 57&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote6"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc"&gt;6&lt;/a&gt;  QS An Nahl / 16 : 90&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote7"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc"&gt;7&lt;/a&gt;  QS Ali Imron / 3 : 159&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote8"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc"&gt;8&lt;/a&gt;  QS Ali Imron / 3 : 103&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote9"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc"&gt;9&lt;/a&gt;  QS Al – Hasyr / 59 : 7&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote10"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote10sym" href="#sdfootnote10anc"&gt;10&lt;/a&gt;  QS Ali Imron / 3 : 159&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote11"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote11sym" href="#sdfootnote11anc"&gt;11&lt;/a&gt;  QS Yasin / 36 : 35&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote12"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote12sym" href="#sdfootnote12anc"&gt;12&lt;/a&gt;  QS Ali Imron / 3 : 110&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote13"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote13sym" href="#sdfootnote13anc"&gt;13&lt;/a&gt;  QS Al – Ahzab / 33 : 36&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote14"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote14sym" href="#sdfootnote14anc"&gt;14&lt;/a&gt;  QS Al – Anbiya / 21 : 107&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-64486978046353810?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/64486978046353810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/wawasan-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/64486978046353810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/64486978046353810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/wawasan-sosial.html' title='Wawasan Sosial'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-296794950016017157</id><published>2009-03-10T03:35:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T03:36:38.730-07:00</updated><title type='text'>Keyakinan Muslim</title><content type='html'>&lt;h1 class="western" align="center"&gt;Keyakinan Muslim&lt;/h1&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;Keyakinan merupakan dasar dari setiap gerak dan aktifitas hidup manusia. Karena itu manusia secara fitri membutuhkan keyakinan hidup yang dapat menjadi pegangan dan sandaran bagi dirinya. Ini berarti manusia menyadari, bahwa dirinya adalah makhluk lemah yang membutuhkan pertolongan, bimbingan dan perlindungan dari sesuatu yang diyakini sebagai Yang Maha Kuasa.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Dalam Islam, keyakinan kepada Yang maha Kuasa disebut &lt;i&gt;Tauhid.&lt;/i&gt; Pada sistem keyakinan dari agama dan kepercayaan lain yang ada, Yang Maha Kuasa dirumuskan sebagai&lt;i&gt; Tuhan&lt;/i&gt;, berdasarkan persepsi dan alam pikiran manusia sendiri. Dalam konsep Tauhid, Tuhan menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui firman dan ayat-ayat-Nya.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Dia-lah Allah Yang Maha Esa.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"&gt;&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja , Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang mengkaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Kuasa, Yang memiliki segala keagungan, Maha Suci Allah dari segala yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang  mempunyai Nama-nama yang baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"&gt;&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Setiap muslim menyatakan dalam &lt;i&gt;syahadah&lt;/i&gt;-nya. “&lt;i&gt;Asyha-du an laa ilaaha illallaah&lt;/i&gt;.” “ Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.” Dengan persaksian ini setiap muslim bearti harus meniadakan sesembahan, tempat bergantung dan segala sesuatu yang dipertuhankan. Pada saat yang sama setiap muslim harus berserah diri sepenuhnya dengan menyembah semata-mata hanya kepada Allah SWT.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Kesaksian yang demikian sebenarnya fitrah manusia. Andai pun manusia belum pernah diseru untuk menyembah Tuhan, secara fitri mereka cenderung ke arah peribadatan tersebut.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"&gt;&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Akan tetapi hal ini tidak senantiasa terwujud atau terealisasi dengan sendirinya. Manusia membutuhkan petunjuk tentang cara- cara yang memadaai untuk mengabdi kepada Allah agar mencapai keridhaan-Nya.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"&gt;&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Untuk keperluan itu, Allah dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya berkenan menurunkan para nabi dan rasul dengan wahyu yang disertakan kepada mereka.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Semua wahyu diturunkan Allah SWT, melalui Jibril sejak nabi Adam as. sampai dengan Muhammad SAW., ada yaang berbentuk &lt;i&gt;shuhuf&lt;/i&gt;, lembaran- lembaran yang tertulis, ada pula yang berbentuk kitab. Wahyu-wahyu sebelum diturunkannya al-Qur’an, dibawa oleh para rasul sebagai petunjuk bagi kehidupan kaumnya di waktu itu, sedang al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia dan berlaku sepanjang masa. Di amping itu kedudukan al-Qur’an juga sebagai kitab yang membenarkan dan menyempurnakan kitab sebelumnya.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"&gt;&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Karena itu al-Qur’an menyatakan dirinya sebagai ajaran yang sempurna dan terjaga keaslian dan kelestariannya sampai hari kiamat.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote7anc" href="#sdfootnote7sym"&gt;&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Kandungan al-Qur’an yang amat penting  terletak pada misi dan seruan kepada manusia untuk beriman, beribadah serta beramar ma’ruf nahi mungkar. Al-Qur’an juga menyatakan diri sebagai kitab yang memberi petunjuk, pembeda, pengingat, pembawa berita gembira, pembawa syari’at yang lurus dan pedoman bagi manusia. Al-Qur’an mengklaim dirinya sebagai kitab yang membawa misi pembebasan bagi manusia dari kegelapan menuju cahaya.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"&gt;&lt;sup&gt;8&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Karena itulah Allah memerintahkan umat menerima al-Qur’an tanpa keraguan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Kandungan al-Qur’an memuat ajaran tentang Tauhid dan peribadatan. Akan tetapi al-Qur’an juga memberikan persepsi tentang masalah-masalah kosmologi, sejarah, fenomena sosial, eksistensi, bahkan konsep tentang hari akhir. Dalam bagian ayat-ayatnya, terkadang al-Qur’an membicarakan suatu entitas tertentu secara mondial, misalnya tentang langit dan bumi, tetapi pada bagian yang lain berbicara tentang detail atau rinciannya. Tidak ada satu masalahpun yang lepas dari pengamatan dan penjelasan al-Qur’an. Karena itu di banyak ayatnya, al-Qur’an meminta perhatian manusia agar hati dan akalnya senantiasa dimanfaatkan dalam segala hal dan juga memerintahkan untuk memikirkan permasalahan intelektual.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Begitu besarnya ajaran dan misi yang diemban al-Qur’an untuk manusia, sehingga Allah berkenan menurunkan sejarah kenabian dan kerasulan didalamnya, terutama berkenaan dengan berbagai konsekuensi penerimaan atau penolakan misi dan ajaran tersebut oleh manusia.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Semua nabi dan rasul itu, termasuk Muhammad SAW. membawa risalah yang sama, yakni Tauhid. Para nabi dan rasul itu menyeru kepada manusia agar tidak menyembah selain Allah. Dalam seruan itu nabi dan rasul, termasuk Muhammad SAW., tidak melakukan pemaksaan.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"&gt;&lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Yang dilakukannya adalah menyampaikan, mengajarkan dan memperingatkan manusia dengan risalah yang dibawanya. Hal ini amat penting karena dalam kehidupannya, manusia tidak senantiasa mampu menjaga dan mengembangkan jati diri yang sesuai dengan fitrahnya, bahkan tidak jarang manusia tenggelam dalam noda dan dosa serta kekafiran.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Sementara risalah harus disampaikan kepada kaumnya, merekapun secara langsung tunduk terhadap otoritas risalah itu dan sekaligus menjadi &lt;i&gt;uswatun hasanah,&lt;/i&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote10anc" href="#sdfootnote10sym"&gt;&lt;sup&gt;10&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;agar risalah tersebut semestinya diterima dan dipraktikkan dalam kehidupan manusia. Pernyataan kesaksian, syahadah rasul, yang diajarkan oleh Islam menunjukkan bagaimana semestinya cara-cara dan perilaku kehidupan manusia agar diridhoi Allah SWT. Karena itulah kedudukan nabi, rasul dam Muhammad sebagai penutupnya menjadi demikian penting. Mereka tidak saja menyampaikan risalah wahyu dan menjadi uswatun hasanah, akan tetapi kedudukannya juga sebagai acuan dan sumber syari’ah bagi manusia setelah wahyu.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote11anc" href="#sdfootnote11sym"&gt;&lt;sup&gt;11&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Dalam realitas sosial, setiap rasul terutama Muhammad SAW., kecuali mengajarkan risalah yang dibawanya, mereka juga memimpin, mendidik dan juga menggembalakan umatnya, dan dalam keadaan tertentu juga menjadi panglima perang. Kehadiran dan diutusnya para rasul ini demikian besarnya dalam kehidupan manusia, karena semua nabi dan rasul-Nya pada dasarnya memiliki kesamaan misi, yakni menyelamatkan dan membebaskan manusia dari api neraka dan dari kehancuran pada umumnya, serta mengajaknya kepada kehidupan yang sejahtera di dunia dan akherat. Multi peran dan kedudukan nabi yang demikian penting dalam kehidupan manusia ini sekaligus menunjukkan, bahwa persoalan agama, dalam hal ini Islam, bukanlah sebatas rohani, spiritual, etika dan keakhiratan belaka. Tidak ada satupun dalam kehidupan manusia yang dapat dilepaskan  dari persoalan agama.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Salah satu misi risalah untuk mengembangkan “&lt;i&gt;kejatidirian&lt;/i&gt;” manusia dengan benar, terletak pada pandangan dan penjelasan al-Qur’an tentang alam semeesta. Menurut al-Qur’an, keberadaan alam semesta juga karena diciptakan. Proses penciptaan itu sendiri berjalan secara evolutif dalam enam masa.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote12anc" href="#sdfootnote12sym"&gt;&lt;sup&gt;12&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Alam diciptakan Allah SWT, dalam keadaan seimbang dan tanpa cacat.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote13anc" href="#sdfootnote13sym"&gt;&lt;sup&gt;13&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Alam semesta secara pasif adalah muslim.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote14anc" href="#sdfootnote14sym"&gt;&lt;sup&gt;14&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Keberadaanya sebagai bukti kekuasaan dan keberadaan Allah SWT. Karena itu manusia jangan terperosok kedalam penyembahan terhadap alam, dan melupakan Tuhan, karena interaksinya yang keliru terhadap alam.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Alam semesta ini diciptakan Allah SWT. untuk manusia dan menjadi pelajaran baginya. Manusia berhak mengelola dan memanfaatkannya guna memenuhi kebutuhan dan untuk mencapai tujuan hidupnya. Tetapi seballiknya, manusia dilarang mengeksploitasi dan merusaknya, sehingga segala akibatnya akan diderita sendiri oleh manusia.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote15anc" href="#sdfootnote15sym"&gt;&lt;sup&gt;15&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Karena keberaaan an  posisinya adalah untuk manusia dan menjadi pelajaran, maka alam juga dilengkapi dengan &lt;i&gt;ukuran&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;qadar&lt;/i&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote16anc" href="#sdfootnote16sym"&gt;&lt;sup&gt;16&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt; dan hukum-hukum tertentu yang disebut &lt;i&gt;sunnatulllah&lt;/i&gt;. Sunnatullah pada alam semesta bersifat &lt;i&gt;tetap, dapat diamati&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;dipelajari&lt;/i&gt; oleh manusia.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote17anc" href="#sdfootnote17sym"&gt;&lt;sup&gt;17&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Oleh karena itu jika manusia secara serius mau memperhatikan alam dengan mengikuti petunjuk kitab suci dan nabinya serta mendayagunakan secara maksimal akal budinya, maka ia akan dapat memperkirakan perjalanan alam, dan selanjutnya dapat menguasainya secara proporsional.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Dari sinilah sejarah hidup manusia dan masa depannya diuji. Apakah dengan diturunkannya risalah universal itu manusia dengan sadar mengikutinya, yang berarti muslim, atau menempuh jalan lain yang berarti kafir atau munafiq. Setiap pilihan manusia membawa konsekuensi, di dunia maupun di akherat. Konsekuensi di akherat akan menjadi tanggungan bagi dirinya sendiri. Suatu masa ketika setiap manusia harus mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya, disebut &lt;i&gt;hari  kiamat&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;hari pembalasan&lt;/i&gt;. Pada hari itu semua amal manusia akan dihisab atau dihitung dan ditimbang baik dan buruknya. Akhirnya, manusia menerima konsekuensi amal perbuatannya itu, apabila kebajikannya lebih banyak, ia akan dimasukkan sebagai ahli surga, atau sebaliknya sebagai ahli neraka.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; Tidak satupun agama ataupun kepercayaan yang begitu jelas memiliki konsep “masa depan sejarah” ini, sebagaimana terdapat dalam Islam. Pentingnya masa depan sejarah (hari kiamat, hisab, surga dan neraka) bukan saja untuk membalas amal perbuatan  manusia, melainkan kejelasan konsep tersebut juga akan menggugah kesadaran manusia untuk merencanakan hidupnya, menyusun langkah – langkah ke depan  dan siap mengambil resiko secara paripurna. Karena itulah kehidupan di dunia yang hanya sekali itu Mnusia harus hati – hati, cermat dan sadar agar mencapai keselamatan. Satu perangkat yang amat penting untuk meniti kehidupan adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang diarahkan oleh al-Qur’an tentu saja membentuk konsep yang khas Islam. Dengan konsep ilmu itu pula, secara timbal balik dan dinamis, kebanyakan aspek ajaran Islam dapat difahami, dijelaskan serta diperjuangkan untuk terwujud.[]&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;div id="sdfootnote1"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt;  Thaha / 20 : 14&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote2"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc"&gt;2&lt;/a&gt;  Al-Ikhlas / 112 : 1&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote3"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc"&gt;3&lt;/a&gt;  Al-Hasyr / 59 : 22 - 24&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote4"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc"&gt;4&lt;/a&gt;  Ar-Rum / 30 : 30&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote5"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc"&gt;5&lt;/a&gt;  Al-Fajr / 89 : 27 - 30&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote6"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc"&gt;6&lt;/a&gt;  Al-Bayyinah / 98 :3&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote7"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc"&gt;7&lt;/a&gt;  Al-Hijr / 15 : 9&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote8"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc"&gt;8&lt;/a&gt;  Ibrahim / 14 : 1&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote9"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc"&gt;9&lt;/a&gt;  Al-Baqarah / 2 : 256&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote10"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote10sym" href="#sdfootnote10anc"&gt;10&lt;/a&gt;  Al-Ahzab / 33 : 21&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote11"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote11sym" href="#sdfootnote11anc"&gt;11&lt;/a&gt;  Al-Hasyr / 59 : 7&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote12"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote12sym" href="#sdfootnote12anc"&gt;12&lt;/a&gt;  Qaff / 50 : 38&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote13"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote13sym" href="#sdfootnote13anc"&gt;13&lt;/a&gt;  Al-Mulk / 67 : 3 - 4&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote14"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote14sym" href="#sdfootnote14anc"&gt;14&lt;/a&gt;  Ali Imron / 3 : 83&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote15"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote15sym" href="#sdfootnote15anc"&gt;15&lt;/a&gt;  Ar-Ruum / 30 : 41&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote16"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote16sym" href="#sdfootnote16anc"&gt;16&lt;/a&gt;  Yasin / 36 : 38 - 39&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote17"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote17sym" href="#sdfootnote17anc"&gt;17&lt;/a&gt;  Al-Fathir / 35 : 43 - 44&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-296794950016017157?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/296794950016017157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/keyakinan-muslim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/296794950016017157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/296794950016017157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/keyakinan-muslim.html' title='Keyakinan Muslim'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8944194871259081941.post-8731427467137322633</id><published>2009-03-10T03:32:00.000-07:00</published><updated>2009-03-15T22:44:45.628-07:00</updated><title type='text'>Wawasan Ilmu</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 18px;"&gt;Wawasan Ilmu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Manusia merupakan makhluk Allah yang memiliki struktur ciptaan paling sempurna&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; jika dibandingkan dengan makhluk – makhluk lain manapun. Ia hadir di atas dunia ( diciptakan oleh Allah ) bukan tanpa tujuan, melainkan dengn tujuan tunggal, yakni beribadah kepada Allah SWT. Meskipun manusia memiliki kesempurnaan struktur dibandingkan semua makhluk di alam semesta, tetapi pada mulanya manusia lahir di dunia dalam keadaan tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu apapun.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote2sym"&gt;&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Kemudian Allah memberi alat untuk memperoleh pengetehuan berupa fuad ( hati dan akal ), pendengaran dan penglihatan ( panca indera ).&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote3sym"&gt;&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Maksud dari pemberian ini agar kita kembali pada tujuan diciptakannya, yakni beribadah dan bersyukur kepada Allah SWT.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Allah sebagai sumber kebenaran juga memberikan al – Qur’an, agar manusia mempelajari ayat – ayat - Nya sebagai proses untuk memperoleh pengetahuan.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote4sym"&gt;&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Al – Qur’an berisi keterangan tentang segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat dan berita tentang masa depan yang bahagia.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote5sym"&gt;&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Dengan al – Qur’an, manusia akan terpimpin pada kebenaran serta tidak melakukan kesalahan atau kejahatan ( kemungkaran ).&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote6anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote6sym"&gt;&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Dengan demikian, manusia harus meenyadari bahwa Allah SWT adalah Pendidik ( &lt;i&gt;rabb&lt;/i&gt; ) manusia yang sesungguhnya.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote7anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote7sym"&gt;&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Allah telah mengajarkan pengetahuan lewat kenyataan diri manusia sendiri dan kejadian alam,&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote8anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote8sym"&gt;&lt;sup&gt;8&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; yang kemudian dapat menjadi pengetahuan alam dan pengetahuan tentang manusia. Dalam dua pengetahuan itu berlaku sunnatullah, baik fisik maupun non fisik, yang sejak semula diciptakan sampai hari akhir tanpa perubahan sedikitpun.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote9anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote9sym"&gt;&lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Terdapat perbedaan  metode dalam memahami kedua sunnatullah tersebut, dari segi instrumen dalam diri manusia dan sumber pijakan pengetahuan. Untuk pengetahuan alam fisik, al – Qur’an menjelaskan secara garis besar tentang bagaimana teori dan hukum alam dapat dipahami. Alam fisik adalah objek pengetahuan yang sifat - sifatnya relatif tetap ( kontinu  daan konsisten ). Karena itu proses dan instrumen memperoleh pengetahuan itu cukup dengan pengerahan intelektual secara sungguh – sungguh, apapun keyakinan dan pandangan hidupnya,&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote10anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote10sym"&gt;&lt;sup&gt;10&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;  hasilnya akan sama sepanjang konsisten dengan sunnatullah. Keberhasilan memperoleh pengetahuan pada tingkat ini karena alam fisik memiliki tingkat objektifitas tertentu.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote11anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote11sym"&gt;&lt;sup&gt;11&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.Tugas manusia adalah memikirkanya sampai menemukan hukum alam ( sunnatullah ) yang tetap dan benaar. Misalnya, masalah turunnya air, peristiwa, siang dan malam, matahari dan bulan, laut yang mengeluarkan daging segar dan perhiasan untuk manusia dan sebagainyaa.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote12anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote12sym"&gt;&lt;sup&gt;12&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Kareena itu siapapun yang berusaha dan berfikir sungguh – sungguh akan menemukan sunnatullah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Tetapi dalam pemanfaatan atau penerapan hasil pengetahuan  alam dalam bentuk teknlogi ini tidak lagi bebas nilai, tidak hanya dengan pemikiran bebas ( rasional ), tetapi ditentukan oleh keyakinan, pandangan hidup, teori dan strategi perbaikan masyarakat pemakainya. Pemakaian teknologi yaang berangkat dari pandangan “manusia sebagai pusat kehidupan” tentu berbeda dengan yang berpijak dari andangan “Allah sebagai pusat kehidupan,” baik dalam strategi, pendekatan kebijakan maupun dampaknya. Bagi yang memiliki pandangan  “Allah sebagai pusat kehidupan” akan memulai tahap penelitiannya dengan motif beribadah kepada Allah SWT.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote13anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote13sym"&gt;&lt;sup&gt;13&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Sedangkan pengetahuan jenis kedua, yakni yang berkaitan dengan diri manusia dan tata kehidupan sosialnya. Sifat objeknya ( yaitu manusia ) selalu berubah – ubah ( tidak tetap ). Suatu saat memiliki sifat membela kebenaran, tetapi pada saat lain, dengan kondisi tertentu, berubah sikap memihak kebatilan. Hal in karena manusia memiliki &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; ( hati dan akal ) serta panca indera yang melahirkan keyakinan, perasaan, pandangan hidup, pikiran dan lingkungan pergaulan. Oleh karena itu, hanya Allah dengan al – Qur’an, manusia akan memperoleh kebenaran,&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote14anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote14sym"&gt;&lt;sup&gt;14&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; artinya bahwa cara berfikirnya diletakkan dibawah iman, informasi awal pengetahuannya adalah al – Qur’an.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Salah satu sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan masyarakat ( menurut al – Qur’an ) adalah bahwa masyarakat akan mengalami kejayaan ( mencapai puncak peradaban ) jika masyarakat itu mengikuti “dienul Islam” yang sejalan dengan fitrah manusia, memiliki kesadaran aakan hakikat keberadaan dirinya dimata Allah, dan memperjuangkannya dengan kesungguhan.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote15anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote15sym"&gt;&lt;sup&gt;15&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Dan masyarakat akan hancur jika mengikuti hawa nafsu dengan menjadikan dirinya sebagai sumber nilai dan tujuan kehidupan. Karena hawa nafsu menyuruh manusia berbuat kejahatan.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote16anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote16sym"&gt;&lt;sup&gt;16&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Oleh karena itu, masyarakat yang hanya mengikuti hawa nafsu, keinginan tak terbatas untuk menjadikan manusia sebagai pusat orientasi kehidupan, termasuk ciri utama masyarakat yang dhalim.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote17anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote17sym"&gt;&lt;sup&gt;17&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Dalam perspektif sejarah, masyarakat yang dhalim pasti mengalami kehancuran. Proses kehancuranya ditandai dengan krisis keyakinaan dan moral serta munculnya pemuka masyarakat, baik dalam kekuasaan,, kekaayaan maupun ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memimpin dengan melampaui batas, dan baru kemudian  lahir generasi pengganti sebagai pemimpin ( khalifah ) yang juga masih akan diuji bagaimana cara kerja manusia.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote18anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote18sym"&gt;&lt;sup&gt;18&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Adapun jenis pengetahuan yang lain merupakan ikhtisar manusia untuk memahami Tuhan-nya. Hal ini tidak mungkin dicapai kecuali memahami sifat – sifat- Nya melalui al – Qur’an dan sunnah rasul. Jika semata – mata manusia mendasarkan rasio, niscaya tidak mungkin mencapai pengetahuan tentang Tuhan yang sebenarnya, bahkan tersesat jauh dari kebenaran.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote19anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote19sym"&gt;&lt;sup&gt;19&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Penerimaan manusia terhadaap otoritas al - Qur’an dan sunnah rasul sebagai referensiakan memberikan bekal bagi akal untuk proses pemerkayaan dan pembentukan pola berfikir  yang islami. Hal ini terjadi karena al – Qur’an memiliki keragaman tema pembahasaan terhadap berbagai masalah, alur logika, semangat dan metodologi yang komprehensif. Dalam kerangka referensi inilah, manusia mempunyai peluang untuk berhasil mengantisipasi problematika kehidupan, keilmuan serta memastikan bentuk epistemologinya secara komprehensif pula, berdasarkan prinsip – prinsip Tauhid.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Disatu fihak, ilmu merupakan rangkaian kegiatan progresif, yang dilakukan menurut sistem dan meode tertentu melalui usaha kekuatan akal budi manusia dalam memahami kenyataan Tuhan, manusia dan alam seecara benar. Dipihak lain, tujuan ilmu adalah kebenaran.sedangkan sumber nilai kebenaran yang asasi dan hakiki adalah al – Qur’an dan sunnah Rasul. Dengan sendirinya, pandangan tentang Tuhan, manusia dan alam harus bertitik tolak dari &lt;i&gt;dien al –Islam&lt;/i&gt; dibawah prinsip – prinsip Tauhid. Ilmu hanyalah  alat untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, sehingga semakin tinggi ilmu yang diperoleh manusia akan semakin tinggi pula tingkat ketaqwaannya kepadaa Allah SWT.Orang – orang yang demikian itulah yang akan  ditinggikan derajatda kemuliaannya di sisi Allah SWT.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote20anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote20sym"&gt;&lt;sup&gt;20&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Dengan demikian struktur ilmu dalam pandangan Islam, secara epistemik, berbeda dengan ilmu ( sains ) yang dibangun berdasarkan ideologi non Islam. Dalam perspektif Islam, ilmu dibangun atas dasar keyakinan yang bersifat tauhidi. Dari keyakinan inilah kemudian diturunkan dan dikembangkan berbagai asumsi, teori dasar, penalaran ilmiah, disiplin ilmu dan teknologi. Sedangkan dalam  khasanah konvensional, ilmu tidaklah dibangun berdasarkan keyakinan agamawi, bahkan terpisaah sama sekali.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Perbedaan itu sudah  barang tentu membawa implikasi besar. Pada khasanah konvensional, ilmu biasanya diverifikasi ( di-&lt;i&gt;tashih&lt;/i&gt; ) hanya sebatas empirik dan logis saja. Karena itu hal – hal keilmuan lainnya, yang disebabkan tidak dapat diverifikasi secara empirik dan logis, dianggap sebagai diluar kategori ilmiah. Sedangkan dalam pandangan Islam,yang digunakan untuk memverifikasi ( mentashih ), tidak hanya bersifat empirik dan logis, tetapi juga normatif, yakni berdasarkan al –Qur’an dan sunnah. Dengan demikian persoalan keilmuan yang tidak dapat diverifikasi secara empirik dan logis, dapat diverifikasi secara langsung berdasarkan al – Qur’an dan as – Sunnah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Oleh karenanya menurut Islam, ilmu merupakan satu kesatuan pengetahua tentang Tuhan, alam dan manusia, sehingga melahirkan spektrum ilmu yang sangat luas yaitu Tauhid, kealaman, dan sosial, yang pada gilirannya melahirkan cabang – cabang ilmu pengetahuan lainnya.  Dalam pandangan umum, ilmu terbagi menjadi ilmu agama, sosial dan alam. Kategori ini secara filosofis termasuk sekuler, karena agama tampak sebagai urusan akherat atau pribadii saja, tidak merangkum seluruh kenyataan sosial. Sedangkan ilmu sosial dan alam tampak sebagaai urusan dunia yang terlepas dari kehidupan beragama. Padahal alam semesta ini merpakan satu kesatuan, maka ilmu harus dibentuk dan membentuk satu keseluruhan. Cabang – cabang ilmu yang berbeda harus dilihat sebagai hubungan kesaling-bergantungan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Dengan demikian kesemuanya mengacu pada “kata kunci,” bahwa Allah sebagai sumber kebenaran yang memerintahkan manusia mempelajari alam semesta dengan petumjuk – Nya yang terdapat dalam al –Qur’an Tetapi untuk menemukan hukum – hukum-Nya yang terdapat di alam semesta, manusia harus mempelajarinya dengan akal budi. Dengan landasan iman yang kuat dan menyeluruh yang disertai dengan penguasaan ilmu pengetahuan, akhirnya manusia akan mencapai puncak perkembngan diri dan masyarakatnya. Demikian pula kesatuan masyarakat dalam mencari kebenaran akan berakhir apabila menempatkan cara berfikirnya dalam kerangka iman dan perspektif al – Qur’an serta as – Sunnah.[]&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div id="sdfootnote1"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt;  QS Al – Isra / 17 : 70&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote2"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote2anc"&gt;2&lt;/a&gt;  QS An – Nahl / 16 : 78&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote3"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote3anc"&gt;3&lt;/a&gt;  QS Al – A’raf / 7 : 179&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote4"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote4anc"&gt;4&lt;/a&gt;  QS Shaad / 38 : 29&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote5"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote5anc"&gt;5&lt;/a&gt;  QS An – Nahl / 16 : 89&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote6"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote6sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote6anc"&gt;6&lt;/a&gt;  QS Ali Imrom / 3 : 138&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote7"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote7sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote7anc"&gt;7&lt;/a&gt;  QS Al – Alaq / 98 : 1-5&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote8"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote8sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote8anc"&gt;8&lt;/a&gt;  QS Fushshilat / 41 : 53&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote9"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote9sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote9anc"&gt;9&lt;/a&gt;  QS Al – Ahzab / 33 : 62&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote10"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote10sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote10anc"&gt;10&lt;/a&gt;  QS Al Jaatsiyah / 45 : 13&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote11"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote11sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote11anc"&gt;11&lt;/a&gt;  QS Al – An’am / 6 : 73&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote12"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote12sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote12anc"&gt;12&lt;/a&gt;  QS An – Nahl / 16 : 10-16&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote13"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote13sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote13anc"&gt;13&lt;/a&gt;  QS Al  - An’am /  6 : 162&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote14"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote14sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote14anc"&gt;14&lt;/a&gt;  QS Ar – Rahman / 55 : 1-4&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote15"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote15sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote15anc"&gt;15&lt;/a&gt;  QS Ash – Shaff / 61 : 11-12&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote16"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote16sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote16anc"&gt;16&lt;/a&gt;  QS  Yusuf / 12 : 53&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote17"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote17sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote17anc"&gt;17&lt;/a&gt;  QS Ar – Ruum / 30 : 29&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote18"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote18sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote18anc"&gt;18&lt;/a&gt;  QS Yunus / 10 : 13-34&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote19"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote19sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote19anc"&gt;19&lt;/a&gt;  QS Al – An’am / 6 : 56&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote20"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote20sym" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8944194871259081941&amp;amp;postID=8731427467137322633#sdfootnote20anc"&gt;20&lt;/a&gt;  QS Al – Mujadilah / 58 : 11&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8944194871259081941-8731427467137322633?l=matrixprivat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matrixprivat.blogspot.com/feeds/8731427467137322633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/wawasan-ilmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/8731427467137322633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8944194871259081941/posts/default/8731427467137322633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matrixprivat.blogspot.com/2009/03/wawasan-ilmu.html' title='Wawasan Ilmu'/><author><name>apus</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
